Akurat
Pemprov Sumsel

Profil Muhammad Nuh, Guru Besar yang Ditunjuk Menjadi Katib Aam PBNU oleh Pj Ketum Zulfa Mustofa

Fajar Rizky Ramadhan | 16 Desember 2025, 07:11 WIB
Profil Muhammad Nuh, Guru Besar yang Ditunjuk Menjadi Katib Aam PBNU oleh Pj Ketum Zulfa Mustofa

AKURAT.CO Nama Prof. Dr. Mohammad Nuh kembali menjadi sorotan publik setelah ditunjuk sebagai Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) oleh Pejabat Ketua Umum PBNU, KH Zulfa Mustofa. Penunjukan ini terjadi di tengah dinamika internal PBNU yang menguat, khususnya terkait konflik elite organisasi yang belakangan mengemuka.

Muhammad Nuh bukan figur baru dalam dunia pendidikan, keislaman, maupun birokrasi nasional. Ia dikenal sebagai akademisi, teknokrat, sekaligus tokoh Nahdlatul Ulama yang memiliki rekam jejak panjang dalam pengelolaan institusi strategis.

Lahir di Surabaya pada 17 Juni 1959, Muhammad Nuh berasal dari keluarga pesantren. Ayahnya merupakan pendiri Pondok Pesantren Gununganyar Surabaya. Latar belakang pesantren ini menjadi fondasi penting dalam perjalanan intelektual dan keorganisasiannya di NU.

Karier akademik Muhammad Nuh dimulai sebagai dosen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada tahun 1984. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Teknik Elektro ITS, sebelum melanjutkan studi magister dan doktoral di Université des Sciences et Techniques du Languedoc (USTL), Montpellier, Prancis.

Baca Juga: Petinggi PBNU Benarkan Akar Konflik Elite PBNU karena Urusan Tambang, Bukan Zionisme

Pada 1997, Muhammad Nuh dipercaya menjabat sebagai Direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS. Di bawah kepemimpinannya, PENS berkembang pesat dan menjadi mitra strategis Japan International Cooperation Agency (JICA), khususnya dalam pengembangan pendidikan vokasi dan teknologi terapan.

Puncak karier akademiknya terjadi pada 2003, ketika ia dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Digital Control System dengan spesialisasi Sistem Rekayasa Biomedika, sekaligus dilantik sebagai Rektor ITS periode 2003–2006. Saat itu, Muhammad Nuh tercatat sebagai rektor termuda dalam sejarah ITS, menjabat pada usia 42 tahun.

Selain di dunia kampus, Muhammad Nuh juga aktif dalam berbagai organisasi sosial dan keagamaan. Ia pernah menjabat Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur, pengurus PCNU Surabaya, Sekretaris Yayasan Dana Sosial Al Falah Surabaya, pengurus Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya, serta Ketua Yayasan Pendidikan Al Islah Surabaya.

Di tingkat nasional, Muhammad Nuh dikenal luas saat menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Gaya kepemimpinannya yang teknokratis dan komunikatif membuatnya kerap dilibatkan dalam berbagai program strategis lintas kementerian.

Terbaru, pada Maret 2025, Menteri Sosial Saifullah Yusuf menunjuk Muhammad Nuh sebagai Ketua Tim Formatur Program Sekolah Rakyat, sebuah program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Program ini mengusung konsep boarding school gratis dari jenjang SD hingga SMA, lengkap dengan jaminan pendidikan berkualitas dan pemenuhan gizi peserta didik.

“Sengaja kami undang Pak Nuh karena beliau punya legitimasi dan kapasitas untuk membimbing serta mengawal penyelenggaraan Sekolah Rakyat,” ujar Saifullah Yusuf saat itu.

Penunjukan Muhammad Nuh sebagai Katib Aam PBNU dinilai sejalan dengan kebutuhan organisasi akan figur yang memiliki kapasitas manajerial, legitimasi keilmuan, serta pengalaman birokrasi yang matang. Posisi Katib Aam sendiri merupakan jabatan strategis dalam struktur PBNU, terutama dalam menjaga kesinambungan administratif dan kebijakan organisasi di tengah situasi internal yang kompleks.

Baca Juga: PBNU Resmi Tetapkan Muhammad Nuh Menjadi Katib Aam Gantikan Said Asrori

Di tengah konflik elite PBNU yang, menurut sejumlah petinggi organisasi, berakar pada persoalan pengelolaan konsesi tambang, kehadiran figur seperti Muhammad Nuh dipandang sebagai upaya menghadirkan stabilitas dan rasionalitas kelembagaan. Dengan latar belakang akademik yang kuat dan pengalaman panjang di ruang publik, Muhammad Nuh diharapkan mampu memainkan peran penyeimbang serta memperkuat tata kelola organisasi secara lebih transparan dan profesional.

Penunjukan ini sekaligus menegaskan bahwa PBNU masih menempatkan kapasitas intelektual dan pengalaman institusional sebagai modal penting dalam menjaga marwah organisasi di tengah tantangan zaman.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.