Guru di Jember Diduga Telanjangi Siswa, Komisi X DPR: Kekerasan di Sekolah Tak Boleh Dibiarkan

AKURAT.CO Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menyoroti dugaan tindakan tidak pantas yang dilakukan seorang guru wali kelas V di SDN Jelbuk 02, Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Guru tersebut diduga menelanjangi sejumlah siswa saat mencari uang miliknya yang hilang.
Hetifah menegaskan bahwa berbagai bentuk kekerasan di lingkungan sekolah merupakan catatan serius yang tidak boleh dibiarkan terus terjadi. Ia menyebut laporan yang diterima mencakup kekerasan antarsiswa maupun antara guru dan siswa.
“Kami mendapatkan berbagai informasi terkait bentuk-bentuk kekerasan yang terjadi, baik sesama siswa maupun antara siswa dan guru. Ini tentu menjadi catatan kritis yang tidak boleh kita biarkan berlangsung terus-menerus,” ujar Hetifah di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Ia mengaku prihatin atas kasus tersebut dan berharap seluruh ketentuan dalam proses belajar mengajar mampu mencegah kejadian serupa.
Menurutnya, pendidikan harus tetap mengedepankan prinsip mendidik dan menghormati hak individu anak.
“Kami sangat prihatin dan tentu berharap berbagai ketentuan terkait proses belajar mengajar bisa mencegah hal-hal seperti ini terjadi,” katanya.
Hetifah menegaskan, jika terbukti terjadi pelanggaran, maka perlu ada tindakan tegas sebagai pembelajaran bagi semua pihak.
Pendekatan dalam mendidik, kata dia, tidak boleh dilakukan dengan cara mempermalukan atau melanggar hak anak.
“Guru harus menggunakan cara-cara yang mendidik, bukan mempermalukan apalagi melanggar hak individu setiap anak. Penanganan kekerasan di lingkungan pendidikan harus berorientasi pada perlindungan anak dan menciptakan ruang belajar yang aman,” tegasnya.
Baca Juga: MK Tak Berwenang Batalkan Keppres Pengangkatan Hakim Konstitusi
Kronologi Dugaan Kejadian
Peristiwa ini bermula saat guru berinisial FT mengaku kehilangan uang sebesar Rp75 ribu.
Sehari sebelumnya, ia juga mengaku kehilangan uang Rp200 ribu. FT kemudian menggeledah tas milik 22 siswa di kelasnya.
Karena uang yang dicari tidak ditemukan, guru tersebut diduga meminta para siswa untuk melepas pakaian sebagai bagian dari pemeriksaan.
Informasi yang beredar menyebutkan siswa laki-laki diminta menanggalkan pakaian, sementara siswi perempuan diminta melepas pakaian hingga tersisa pakaian dalam.
Kejadian tersebut terungkap setelah para orang tua curiga karena anak-anak mereka pulang terlambat. Sejumlah wali murid kemudian mendatangi sekolah dan membuka pintu kelas.
“Karena sampai siang anak-anak belum pulang, wali murid datang mengecek. Kami mendapat laporan dari siswa kelas VI yang melihat kejadian itu,” ujar salah satu wali murid.
Akibat insiden tersebut, puluhan siswa dilaporkan mengalami trauma. Dari 22 murid di kelas tersebut, hanya enam siswa yang berani kembali masuk sekolah setelah dipanggil guru.
Plt Kepala SDN Jelbuk 02, Arif Rahman, menyatakan kasus ini telah dilimpahkan sepenuhnya kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Jember.
“Saya serahkan semua ke Diknas, silakan konfirmasi,” ujarnya singkat.
Kasus ini kini menjadi perhatian publik dan diharapkan ditangani secara transparan serta mengutamakan perlindungan dan pemulihan psikologis para siswa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









