Menkes: RS Tak Boleh Tolak Pasien Katastropik, PBI Dinonaktifkan Tetap Dilayani

AKURAT.CO Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, menegaskan, rumah sakit tidak boleh menolak pasien, khususnya penderita penyakit katastropik, di tengah polemik penonaktifan kepesertaan Penerima Bantuan Iuran (PBI).
Penegasan tersebut disampaikan Menkes usai rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI, Rabu (11/2/2026).
“Kesepakatan kita dengan DPR adalah semua pasien, terutama yang berpenyakit katastropik, jangan sampai ditolak,” ujar Budi.
Ia menjelaskan, penyakit katastropik tidak hanya terbatas pada pasien gagal ginjal yang menjalani cuci darah.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah pasien cuci darah sekitar 22.000 orang. Namun, terdapat kelompok lain yang juga membutuhkan layanan rutin dan berisiko fatal apabila terhenti.
“Ada pasien kanker yang harus kemoterapi dan radioterapi rutin. Ada pasien stroke dan jantung yang harus minum obat rutin. Ada anak-anak talasemia yang harus transfusi dan perawatan berkala,” jelasnya.
Menurut Budi, penghentian layanan kesehatan terhadap kelompok tersebut dapat meningkatkan risiko kematian. Karena itu, tidak boleh ada jeda pelayanan bagi pasien dengan penyakit katastropik.
“Kalau layanan kesehatannya dihentikan, risikonya bisa fatal. Jadi untuk penyakit katastropik seperti ini, tidak boleh ada jeda layanan,” tegasnya.
Untuk memastikan layanan tetap berjalan, Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh rumah sakit agar tetap melayani pasien PBI yang dinonaktifkan, khususnya bagi mereka yang membutuhkan layanan segera.
Baca Juga: Komisi III DPR Desak Polri Perkuat Literasi Hukum hingga Tingkat RT/RW
“Kami sudah mengirimkan surat ke seluruh rumah sakit agar tetap melayani pasien PBI yang dinonaktifkan untuk layanan hari ini,” ujarnya.
Selain itu, Kementerian Sosial juga telah menerbitkan surat keputusan (SK) yang memungkinkan pasien dengan penyakit katastropik berisiko kematian untuk direaktivasi kepesertaannya secara otomatis dari pusat.
“Pasien-pasien katastropik yang berisiko meninggal akan otomatis direaktivasi dari pusat, tanpa harus datang ke puskesmas atau dinas sosial,” kata Budi.
Dengan kebijakan tersebut, pasien tidak perlu lagi mengurus administrasi tambahan dan dapat langsung kembali memperoleh layanan kesehatan seperti biasa.
“Artinya, mulai hari ini pasien cuci darah, kanker, stroke, jantung, dan talasemia yang membutuhkan layanan rutin tetap bisa dilayani normal,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







