Akurat
Pemprov Sumsel

WFH Sepekan Sekali Relevan Diterapkan di Perusahaan Swasta

Moehamad Dheny Permana | 2 April 2026, 22:45 WIB
WFH Sepekan Sekali Relevan Diterapkan di Perusahaan Swasta
Diskusi bertajuk Gerakan Transformasi Budaya Kerja Baru Berbasis Keberlanjutan: Langkah Kecil, Dampak Besar yang digelar Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI) di Jakarta, Kamis (2/4/2026).

AKURAT.CO Kebijakan Work From Home (WFH) dinilai sangat relevan untuk diterapkan di sektor swasta, seiring perubahan pola kerja yang semakin mengarah pada digitalisasi.

Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Gerindra, Wihadi Wiyanto, menilai, banyak perusahaan swasta justru merasakan peningkatan efisiensi dan produktivitas setelah menerapkan sistem kerja fleksibel.

“Bahkan perusahaan-perusahaan swasta nasional menyatakan karyawannya lebih produktif saat bekerja tidak di kantor,” ujar Wihadi dalam diskusi bertajuk Gerakan Transformasi Budaya Kerja Baru Berbasis Keberlanjutan: Langkah Kecil, Dampak Besar yang digelar Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI) di Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Wihadi menyebut, praktik WFH sejatinya sudah lebih dulu diterapkan oleh banyak perusahaan swasta di Jakarta, bahkan sebelum pemerintah mengeluarkan kebijakan kerja dari rumah satu hari dalam sepekan bagi aparatur sipil negara (ASN).

Ia menjelaskan, fenomena banyaknya gedung perkantoran yang terlihat kosong bukan berarti aktivitas ekonomi menurun, melainkan adanya pergeseran pola kerja.

“Kalau ada yang bilang gedung-gedung di Jakarta kosong, itu bukan karena industrinya tidak berjalan. Tapi karena banyak pekerja yang kini bekerja dari rumah atau lokasi lain,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tren global saat ini memang mengarah pada digitalisasi, di mana banyak pekerjaan dapat dilakukan secara fleksibel tanpa kehadiran fisik di kantor.

“Kalau kita lihat, kantor perusahaan seperti Amazon di Amerika pun sudah minim kehadiran fisik. Bahkan di supermarketnya, semua serba otomatis. Ini menunjukkan era kerja sudah berubah ke arah digital,” tambahnya.

Baca Juga: Google Drive Perkuat Keamanan, Deteksi Ransomware Kini Tersedia untuk Semua Pengguna

Senada dengan itu, ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Next Indonesia Center, Christiantoko, menilai penerapan WFH di sektor swasta bukanlah hal baru dan justru semakin relevan dalam konteks efisiensi.

Menurutnya, perusahaan tidak perlu lagi menanggung biaya operasional besar jika pekerjaan dapat dilakukan secara efektif dari mana saja.

“Ngapain bayar listrik, air, dan sewa kantor kalau pekerjaan tetap bisa berjalan efektif tanpa harus hadir secara fisik,” ujarnya.

Selain faktor efisiensi, Christiantoko juga menyoroti perubahan preferensi generasi muda terhadap pola kerja.

Ia menyebut, pekerja usia 20 hingga 30 tahun kini lebih memilih sistem kerja hybrid demi menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

“Saat ini generasi muda lebih nyaman bekerja dua sampai tiga hari di kantor. Jadi kalau ada kebijakan seperti ini, seharusnya bukan hal yang mengejutkan,” katanya.

Ia pun menilai, kebijakan WFH satu hari dalam sepekan yang diimbau pemerintah justru sejalan dengan tren global dan kebutuhan dunia kerja modern.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.