Akurat
Pemprov Sumsel

Menlu: Intensitas Diplomasi Indonesia Meningkat di Pemerintahan Prabowo

Moehamad Dheny Permana | 22 April 2026, 17:00 WIB
Menlu: Intensitas Diplomasi Indonesia Meningkat di Pemerintahan Prabowo
Menteri Luar Negeri RI Sugiono (kiri) dalam sesi konferensi pers. (Akurat.co/Moehamad Dheny Permana)

AKURAT.CO Menteri Luar Negeri, Sugiono, mengakui bahwa ada peningkatan intensitas dari Indonesia dalam berinteraksi dengan dunia internasional atau berdiplomasi dalam satu setengah tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

"Saya kira dalam satu setengah tahun, pemerintahan yang dipimpin oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto, ada intensitas yang tinggi dari Indonesia, dalam berinteraksi dengan lingkungan global," ujar Sugiono, dalam konferensi pers Penguatan Posisi Indonesia di Dunia Internasional yang digelar di Kantor KSP, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Dia mengatakan, aktifnya Indonesia di berbagai panggung internasional untuk memastikan bahwa kepentingan nasional bisa terus terjaga dan terfasilitasi tanpa mengorbankan hubungan bertetangga dengan negara lain.

Baca Juga: Diplomasi Prabowo ke Rusia dan Prancis Tegaskan Politik Bebas Aktif Indonesia

Intensitas yang tinggi tersebut juga sebagai wujud proaktif Indonesia, untuk turut serta dalam upaya menjaga ketertiban dunia sebagaimana amanat dalam undang-undang.

"Kekuatan posisi kita di dalam panggung global, merupakan upaya, kekuatan dan memajukan kepentingan nasional, serta menjaga tatanan dunia, untuk tetap stabil, untuk tetap tertib, karena ini merupakan amanat konstitusi kita," ujarnya.

Baca Juga: Presiden Prabowo Tiba di Tanah Air Usai Menjalankan Diplomasi Strategis di Eropa

Kaitannya dengan hal tersebut, Sugiono memastikan bahwa Indonesia selalu mengambil langkah-langkah yang konkret, terukur, dan berkelanjutan sesuai dengan prinsip politik bebas aktif.

Menurutnya, penguatan posisi Indonesia dalam pergaulan dunia internasional sangat diperlukan di tengah tingginya ketegangan dan ketidakpastian dinamika global yang kerap mengganggu stabilitas ekonomi.

"Bapak Presiden sering menyebut bahwa seribu kawan terlalu sedikit, dan satu lawan terlalu banyak, yang kita arahkan untuk menjaga dan memperjuangkan kepentingan-kepentingan nasional," ungkapnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.