Kemajuan Teknologi Harus Diimbangi Empati dan Perlindungan Nyata bagi Kelompok Rentan

AKURAT.CO Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan, menyampaikan kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI), harus diimbangi dengan empati, hati nurani, dan perlindungan kuat bagi perempuan dan anak.
Menurutnya tanpa nilai kemanusiaan, pemanfaatan teknologi berisiko memperbesar kerentanan, terutama bagi kelompok rentan di ruang digital.
"Dulu tantangannya adalah akses. Sekarang akses terbuka. Tantangannya adalah bagaimana kita menggunakan teknologi secara bijak tanpa kehilangan empati," kata Veronica dalam keterangannya, Kamis (30/4/2026).
Baca Juga: Hadapi Disrupsi Teknologi, Gibran Dorong Santri Tremas Pacitan Upgrade Diri dan Kuasai AI
Dia menyatakan, semangat Raden Ajeng Kartini tetap relevan untuk membuka akses pendidikan dan keberanian bermimpi. Namun di era digital, nilai tersebut harus diperkuat dengan tanggung jawab.
Karenanya, AI tidak memiliki empati, manusia harus tetap menjadikan hati nurani sebagai dasar bertindak. Sebagai wujud komitmen tersebut, pemerintah terus memperkuat perlindungan melalui kebijakan, termasuk SAPA 129 sebagai kanal pengaduan kasus perempuan dan anak.
Pemerintah juga menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS), untuk memastikan keamanan anak di ruang digital.
Selain itu, pemerintah telah mengesahkan Undang-Undang Pelindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT) pada 21 April 2026 sebagai bentuk pengakuan dan pelindungan hak pekerja, yang mayoritas merupakan perempuan.
Baca Juga: Perjalanan Atlet Lari Indonesia dan Teknologi Sepatu PUMA
"Kami ingin memastikan perempuan dan anak tidak hanya terlindungi, tetapi juga berdaya," jelasnya.
Dia menambahkan, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem digital yang aman, inklusif, dan berkeadilan.
Selain penguatan perlindungan di ruang digital, Kementerian PPPA juga mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan melalui program berbasis komunitas, termasuk pengembangan kebun pangan lokal untuk memperkuat ketahanan keluarga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








