Akurat Logo

Kemenkes: Virus Hanta di Indonesia Berbeda dengan Kasus Mematikan di Kapal Pesiar MV Hondius

Ayu Rachmaningtyas | 11 Mei 2026, 18:20 WIB
Kemenkes: Virus Hanta di Indonesia Berbeda dengan Kasus Mematikan di Kapal Pesiar MV Hondius
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni.

AKURAT.CO Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan kasus virus hanta atau hantavirus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan wabah yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menjelaskan, kasus yang selama ini ditemukan di Indonesia merupakan tipe HFRS (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome), bukan HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome) seperti yang terdeteksi dalam klaster kapal pesiar MV Hondius.

Menurutnya, HFRS lebih banyak ditemukan di kawasan Asia dan Eropa dengan gejala utama berupa demam, tubuh lemas, hingga ikterus atau kondisi tubuh menguning.

Masa inkubasi penyakit ini berkisar satu hingga dua minggu dengan tingkat kematian atau Case Fatality Rate (CFR) sekitar 5 hingga 15 persen.

“Strain yang termasuk dalam tipe ini antara lain Hantaan Virus, Puumala Virus, dan Seoul Virus yang ditemukan di Indonesia,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Senin (11/5/2026).

Ia menjelaskan, virus tipe HFRS umumnya dibawa tikus got atau Rattus norvegicus yang banyak ditemukan di wilayah perkotaan maupun area semi-alami dan pertanian di Asia serta Eropa.

Sementara itu, tipe HPS yang terjadi pada kasus kapal pesiar MV Hondius disebut memiliki tingkat kematian jauh lebih tinggi, yakni mencapai sekitar 60 persen. Penyakit ini umumnya ditemukan di kawasan Amerika.

Gejala HPS meliputi demam, nyeri badan, lemas, batuk, hingga sesak napas berat. Masa inkubasinya juga lebih panjang, yakni antara satu hingga delapan minggu tergantung jenis virusnya.

Baca Juga: Hantavirus Masuk Jakarta! Kemenkes Awasi WNA Kontak Erat Pasien dari Kapal Pesiar MV Hondius

“Strain pada tipe HPS di antaranya Sin Nombre Virus, Laguna Negra, dan Andes Virus yang ditemukan pada kejadian kapal pesiar MV Hondius,” jelasnya.

Ia menambahkan, hewan pembawa virus tipe HPS banyak ditemukan di habitat liar di benua Amerika, termasuk tikus padi berekor panjang.

Kemenkes memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus HPS di Indonesia. Virus hanta yang beredar di Indonesia masih didominasi tipe HFRS dengan strain Seoul Virus.

“Penularannya dapat terjadi melalui gigitan tikus, kontak dengan sekresi, atau menghirup partikel debu yang tercemar urin maupun feses tikus kering,” katanya.

Meski demikian, Kemenkes menegaskan penularan virus hanta antar manusia sangat jarang terjadi.

Penularan antarmanusia sejauh ini hanya pernah dilaporkan pada tipe HPS akibat Andes Virus di wilayah Amerika Selatan.

“Sampai saat ini penularan antar manusia baru dilaporkan pada kasus Andes Virus di Amerika Selatan,” tandasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.