Akurat Logo

Kemhan Ungkap Penyebab Meninggalnya 5 Peserta SPPI, Tegaskan Latsarmil Bukan Pendidikan Prajurit

Ayu Rachmaningtyas | 27 Juni 2026, 13:56 WIB
Kemhan Ungkap Penyebab Meninggalnya 5 Peserta SPPI, Tegaskan Latsarmil Bukan Pendidikan Prajurit
Kepala BPSDM Kemhan, Majyen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, memastikan seluruh peserta Latsarmil SPPI yang meninggal dunia memperoleh penanganan medis sebelumnya. Foto: Akurat.co

AKURAT.CO Kementerian Pertahanan menyampaikan hasil evaluasi awal terkait meninggalnya lima peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Tahun 2026, yang mengikuti latihan dasar militer (latsarmil).

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan, Majyen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, mengatakan, seluruh peserta yang meninggal telah memperoleh penanganan medis sesuai prosedur sejak mengalami gangguan kesehatan hingga dirujuk ke rumah sakit.

Kemhan menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya para peserta program SPPI.

"Atas nama Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Panitia Seleksi Nasional, dan seluruh penyelenggara program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia menyampaikan dukacita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya lima peserta program SPPI KDKN-MP KKN-MP Tahun 2026 yang sedang mengikuti latihan bela negara dan manajerial," jelas Ketut, di Kantor Kemhan, Jakarta, Sabtu (27/6/2026).

Menurutnya, setiap peserta telah melalui pemeriksaan kesehatan yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan sebelum mengikuti pendidikan dengan pemeriksaan laboratorium darah, urine, tes kehamilan, rontgen thoraks, EKG, USG abdomen, pemeriksaan mata, gigi, postur, hingga kesehatan jiwa.

Baca Juga: Latsarmil SPPI Masih Lanjut, Pemerintah Masih Tunggu Hasil Evaluasi

Karena itu, kelima peserta yang meninggal dunia memiliki karakter serta kondisi medis berbeda-beda. Maka diyakini seluruh peserta telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur, baik di fasilitas kesehatan satuan maupun rumah sakit rujukan.

"Dan seluruh peserta sebelumnya telah melalui pemeriksaan kesehatan seperti laboratorium darah, urine, tes kehamilan, rontgen thorax, EKG, USG abdomen, pemeriksaan mata, gigi, postur, dan kesehatan jiwa," ujarnya.

Ketut menjelaskan, SPPI merupakan program nasional yang diselenggarakan Panitia Seleksi Nasional yang melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga.

Dalam program tersebut, Kemhan mendapat tugas menyelenggarakan latihan bela negara dan manajerial sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta. Sebelum menjalankan tugas sebagai pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih.

Ia juga membantah adanya anggapan bahwa peserta dipersiapkan menjadi prajurit.

Baca Juga: Peserta SPPI Meninggal Bertambah Jadi Empat Orang, Kemhan Lakukan Evaluasi Menyeluruh

"Perlu kami tegaskan bahwa kegiatan ini bukan bertujuan membentuk peserta menjadi prajurit atau anggota militer. Para peserta tetap berada pada profesi dan penugasan sipilnya sebagai calon manajer pengelola Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih," jelasnya.

"Latihan bela negara dan manajerial ini diarahkan untuk membentuk karakter, disiplin, kepemimpinan, integritas, kerja sama, tanggung jawab, profesionalisme, kemampuan bekerja dalam tekanan, serta semangat pengabdian kepada masyarakat," tambahnya.

Menurut Ketut, penyelenggaraan latihan telah disusun secara terukur dengan mempertimbangkan latar belakang peserta sebagai masyarakat sipil. Maka penekanan pelatihan di titik beratkan pada pembentukan mental, karakter, tanggung jawab, daya juang, kerja sama, serta kemampuan memecahkan masalah, bukan pada kemampuan tempur.

Karena itu, Kemhan telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek kesehatan, pengawasan medis, profiling kesehatan, penyesuaian intensitas kegiatan, sistem rujukan, hingga mekanisme deteksi dini bagi peserta yang memiliki faktor risiko.

"Kemhan juga berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk memperkuat upaya pencegahan, deteksi dini, serta penanganan penyakit paru dan penyakit menular di lingkungan pendidikan," ujarnya.

Baca Juga: Peserta Latsarmil SPPI Meninggal Dunia, Dave Laksono Desak Pemerintah Evaluasi Total

Ia menegaskan, penyelenggara juga telah melakukan pendampingan kepada keluarga korban, membantu pemulangan jenazah, memberikan santunan sesuai ketentuan, mengurus hak-hak peserta, serta melakukan pemeriksaan kesehatan lanjutan, observasi, dan isolasi bagi peserta yang memerlukan.

"Kami kembali menegaskan bahwa latihan bela negara manajerial merupakan tahapan pembentukan karakter program SPPI yang bertujuan menanamkan disiplin, integritas, kepemimpinan, semangat gotong royong, profesionalisme, nasionalisme, serta kesiapan mengabdi kepada masyarakat," ujar Ketut.

Berikut kronologi masing-masing kejadian berdasarkan laporan resmi dari satuan pendidikan dan rumah sakit:

1. Almarhum Yonanda Muhammad Taufik (Saktik Puslatpur Kodiklatad Baturaja). Pada Rabu, 17 Juni 2026 sekitar pukul 16.00 WIB.

Almarhum mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan di daerah latihan Puslatpur Baturaja dengan berjalan kaki bersama peserta lainnya. Sekitar pukul 17.17 WIB, pelatih menemukan almarhum mengalami penurunan kesadaran.

Tim kesehatan satuan segera dipanggil. Pada pukul 17.22 WIB, almarhum dibawa menggunakan ambulans menuju pos kesehatan satuan pendidikan. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter memutuskan almarhum segera dirujuk ke Rumah Sakit dr. Noesmir Baturaja.

Pukul 18.05 WIB, almarhum tiba di rumah sakit dan langsung mendapatkan penanganan medis. Meskipun telah dilakukan tindakan medis secara intensif, pada pukul 18.30 WIB, dokter menyatakan almarhum meninggal dunia dengan diagnosis cardiac arrest atau henti jantung.

2. Almarhumah Hanisya Musyarrafah (Saktik Dodik Kejuruan Rindam VI/Mulawarman Balikpapan) Pada Kamis, 18 Juni 2026, peserta mengikuti kegiatan pembelajaran sebagaimana jadwal pendidikan.

Sekitar pukul 13.35 WITA, sebelum kegiatan dimulai, almarhumah mengeluhkan sesak napas disertai mual hingga segera dievakuasi ke pos kesehatan Dodikjur. Pada pukul 14.00 WITA, dilakukan pemeriksaan oleh dokter satuan, kemudian pukul 14.05 langsung dirujuk ke Rumah Sakit dr. Hardjanto Balikpapan. Di rumah sakit, almarhumah terus mendapatkan penanganan medis, namun kondisi terus memburuk hingga pukul 18.51 WITA. Hasil EKG menunjukkan flat asystole.

Pada pukul 19.00 WITA, dokter menyatakan almarhumah meninggal dunia. Berdasarkan keterangan medis, penyebab kematian adalah heat stroke.

3. Almarhumah Novia Ramadani Sihotang (Saktik Pusbahasa Kodiklat Angkatan Udara)

Pada Senin, 22 Juni 2026 pukul 14.30 WIB, almarhumah datang ke unit kesehatan dengan keluhan batuk berdahak, sesak napas, dan demam. Setelah dilakukan pemeriksaan awal, diberikan terapi dan dipantau oleh tim kesehatan. Keesokan harinya, Selasa 23 Juni 2026 pukul 06.10 WIB, kondisi almarhumah semakin lemah sehingga langsung dirujuk ke Rumah Sakit Utama dr. Esnawan Antariksa.

Di rumah sakit dilakukan pemeriksaan lanjutan, termasuk foto thorax yang menunjukkan tuberkulosis paru aktif, disertai pemeriksaan laboratorium dan perawatan intensif di ruang ICU isolasi. Pada pukul 15.00 WIB, kondisi pasien mengalami penurunan kesadaran. Tim medis segera melakukan resusitasi jantung paru, namun pada pukul 15.13 WIB, dokter menyatakan almarhumah meninggal dunia. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, almarhumah meninggal dunia akibat tuberkulosis.

4. Almarhum Muhammad Rifki Renaldi Gunawan (Satuan Pendidikan Yon Parako 405 Halim Perdanakusuma) Pada Kamis, 25 Juni 2026 pukul 14.30 WIB, almarhum datang ke ruang kesehatan Saktik dengan keluhan sesak napas dan lemas. Saat dilakukan pemeriksaan, kondisi umum masih stabil sehingga diberikan terapi oksigen, diistirahatkan, dan setelah kondisi membaik kembali mengikuti kegiatan.

Namun pada pukul 18.00 WIB, keluhan sesak napas kembali muncul. Almarhum segera dibawa ke ruang kesehatan dan pada pukul 18.25 WIB dirujuk ke IGD Rumah Sakit Angkatan Udara dr. Esnawan Antariksa. Di rumah sakit dilakukan pemeriksaan menyeluruh meliputi pemeriksaan laboratorium, EKG, foto thorax, pemasangan alat bantu napas, hingga perawatan di ICU.

Meskipun telah dilakukan tindakan medis, kondisi pasien terus memburuk. Pada Jumat, 26 Juni 2026 pukul 00.28 WIB, dokter menyatakan almarhum meninggal dunia.

Berdasarkan resume medis dan laporan khusus, penyebab kematian berkaitan dengan pneumonia atau infeksi paru-paru yang disertai komplikasi medis. Dalam riwayat kesehatan juga terdapat informasi mengenai hipertensi dan obesitas yang menjadi bagian dari evaluasi medis.

5. Almarhumah Nola Diasari (Satuan Pendidikan Dodik Bela Negara Kalimantan) Pada Jumat, 26 Juni 2026, almarhumah mengikuti kegiatan pembelajaran CJI dan teknik perkebunan di dalam kelas tanpa keluhan kesehatan. Sekitar pukul 18.45 WIB, almarhumah mengeluhkan sesak napas disertai badan terasa panas.

Tim kesehatan segera memberikan penanganan awal dan merujuk yang bersangkutan ke IGD Rumah Sakit Singkawang. Pada pukul 19.20, almarhumah tiba di IGD dan langsung mendapatkan pemeriksaan serta penanganan medis. Setelah dilakukan stabilisasi, pasien dirujuk ke Rumah Sakit Abdul Aziz Singkawang untuk memperoleh penanganan yang lebih komprehensif.

Sekitar pukul 20.20 WIB, almarhumah tiba di RSUD Abdul Aziz Singkawang dan segera mendapatkan penanganan lanjutan oleh tim medis. Dalam proses penanganan terjadi henti jantung sehingga dilakukan resusitasi jantung dan tindakan kardioversi.

Baca Juga: Dua Peserta Latsarmil Meninggal Dunia, Kemhan Evaluasi Menyeluruh

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.