Akurat
Pemprov Sumsel

Ketika Gelar Kesarjanaan Tidak Lagi Menjamin Pekerjaan

Abdul Rozak | 1 April 2026, 15:28 WIB
Ketika Gelar Kesarjanaan Tidak Lagi Menjamin Pekerjaan
Abdul Rozak, Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan.

Kondisi Paradoksal Pendidikan Tinggi di Era Disrupsi

Pendidikan tinggi hari ini tengah menghadapi kondisi paradoksal yang semakin nyata: produksi lulusan terus meningkat, tetapi daya serap dunia kerja tidak sebanding lurus. Gelar akademik kesarjanaan yang dahulu menjadi simbol mobilitas sosial dan sangat dikagumi publik, kini perlahan kehilangan legitimasi fungsionalnya.

Fenomena educated unemployment atau pengangguran terdidik bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan cerminan kegagalan sistemik desain kurikulum dan pola pembelajaran di perguruan tinggi dalam menjembatani dunia pendidikan dengan realitas industri.

Data Badan Pusat Statistik (2023) menunjukkan bahwa pengangguran terdidik masih menjadi problem struktural. Di saat yang sama, laporan World Economic Forum (WEF) menegaskan bahwa sekitar 44% keterampilan kerja akan berubah dalam beberapa tahun ke depan akibat disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan (AI).

Baca Juga: Prabowo Ajak Inggris Bangun Kampus di RI, Hilman: Jangan Sampai Ganggu Perguruan Tinggi Swasta

Hal ini menunjukkan bahwa problem utama lulusan bukan sekadar keterbatasan lapangan kerja, melainkan skills mismatch yang semakin melebar antara apa yang diajarkan di kampus dan apa yang dibutuhkan di ekosistem kerja.

Paradoksal ini terletak pada kenyataan bahwa ekspansi akses pendidikan tidak diikuti oleh peningkatan relevansi kurikulum. Perguruan tinggi terus mencetak sarjana dengan legitimasi formal yang kuat, tetapi sering kali gagal membekali mereka dengan kompetensi kontekstual dan kapasitas adaptif. Akibatnya, gelar akademik mengalami inflasi makna—tetap bernilai secara simbolik, tetapi melemah secara fungsional.

Kampus terjebak dalam dilema antara mempertahankan tradisi akademik yang mapan atau merespons cepat tuntutan perubahan melalui rekonstruksi mendasar pada pola pembelajaran.

Krisis Relevansi: Kurikulum yang Tertinggal dari Realitas Sosial

Akar persoalan kesenjangan ini terletak pada desain kurikulum yang masih terjebak dalam paradigma lama: berorientasi pada transfer pengetahuan (transfer of knowledge), bukan pada pembentukan kompetensi kontekstual. Model pembelajaran yang dominan—teoritis, linier, dan berpusat pada dosen—menjadikan proses pendidikan kehilangan daya transformasinya. Sebagaimana ditegaskan John Dewey, pendidikan sejatinya harus berangkat dari pengalaman (learning by doing), namun dalam praktiknya, pendekatan ini belum menjadi arus utama.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Abdul Rozak
A