Mahkota Kertas: Ketika Gelar Sarjana Kehilangan Jiwa

Di Balik Selebrasi Toga
Setiap tahun, musim wisuda kembali menjelma menjadi festival penuh haru dan gemerlap. Ribuan toga terayun di udara, lensa kamera mengabadikan senyum lega, dan ucapan selamat mengalir deras di linimasa media sosial. Di atas panggung, nama demi nama dipanggil; selembar ijazah disematkan, sebuah gelar akademik resmi melekat di belakang nama.
Namun, di tengah gegap gempita seremoni yang tampak sempurna itu, beranikah kita mengajukan pertanyaan yang sedikit mengusik? Apakah di balik toga yang membalut tubuh itu, terdapat pikiran yang telah benar-benar diasah? Ataukah kita tengah merayakan lahirnya generasi baru pemegang gelar yang hanya cakap di atas kertas?
Pertanyaan ini bukanlah sinisme tanpa dasar. Ia berakar pada paradoks pendidikan tinggi kita hari ini: akses semakin luas, jumlah sarjana melonjak, tetapi kesenjangan antara kompetensi lulusan dan tuntutan zaman justru kian melebar.
Kita sedang berada di persimpangan antara ekspansi kuantitas dan erosi kualitas—sebuah fenomena yang melahirkan apa yang saya sebut sebagai mahkota kertas: gelar yang tetap berkilau secara seremonial, namun kian ringan secara substansial.
Matinya Dialektika: Pembelajaran Semu di Ruang Kuliah
Dalam imajinasi ideal, universitas adalah taman pengetahuan tempat nalar kritis bertumbuh dan jiwa-jiwa muda belajar merdeka berpikir. Di sanalah seharusnya terjadi meaningful learning—proses belajar yang membentuk kesadaran reflektif, bukan sekadar mengisi memori jangka pendek.
Baca Juga: Daftar Jurusan Kuliah dengan Gaji Tinggi, Lulusan Bisa Tembus Puluhan Juta
Akan tetapi, apa yang kerap terjadi di banyak ruang kuliah hari ini adalah kebalikannya. Aktivitas belajar-mengajar terjebak dalam ritual administratif yang dangkal: dosen menyampaikan materi, mahasiswa mencatat, lalu ujian datang dan informasi itu dimuntahkan kembali.
Paulo Freire, lebih dari setengah abad silam, telah memperingatkan bahaya banking model of education—di mana mahasiswa diperlakukan sebagai celengan kosong yang siap diisi tabungan pengetahuan oleh sang guru. Dalam model ini, tidak ada dialog. Tidak ada pergulatan ide. Yang ada hanyalah kepatuhan pasif dan reproduksi buta.
Akibatnya, lahirlah apa yang bisa kita sebut sebagai pembelajaran semu. Mahasiswa mungkin fasih menyebutkan definisi, tetapi gagap ketika diminta menjelaskan konteks. Mereka tahu "apa", tetapi tidak mengerti "mengapa".
Lebih dalam lagi, ini adalah pertanda krisis epistemologis—krisis tentang bagaimana pengetahuan seharusnya diproduksi, dipertanyakan, dan dimaknai. Ketika proses dialektika berhenti, ketika ruang perdebatan digantikan oleh ruang hafalan, maka kampus kehilangan esensinya sebagai ladang persemaian pemikiran.
Kecerdasan Buatan: Katalis Efisiensi atau Amputasi Nalar?
Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam lanskap pendidikan tinggi menghadirkan ambivalensi yang tak sederhana. Di satu sisi, AI adalah pisau teknologi paling tajam yang pernah dimiliki peradaban: ia membuka akses informasi tanpa batas, mempercepat riset, dan membantu penyelesaian tugas-tugas teknis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini






