Ketika Benar Tidak Lagi Cukup

ADA peristiwa-peristiwa yang membuat saya kembali mempertanyakan makna kepemimpinan. Bukan karena saya menolak perubahan. Sebaliknya, saya memahami bahwa setiap lembaga harus bertumbuh. Struktur dapat berubah, kebijakan dapat berganti, bahkan sejarah panjang sebuah institusi pada akhirnya harus berhadapan dengan tuntutan zaman.
Namun, perubahan yang sehat selalu menyisakan satu ruang yang tidak boleh dirampas: martabat manusia.
Kegelisahan itu muncul ketika saya menyaksikan berbagai peristiwa yang mengiringi proses integrasi sebuah lembaga pendidikan. Sengketa hukum masih berjalan. Berbagai pihak masih mempertahankan argumentasi dan keyakinannya melalui jalur yang sah.
Namun pada saat yang sama, sejumlah tindakan terus berlangsung seolah seluruh persoalan telah selesai dan tidak lagi menyisakan ruang perdebatan.
Sebagai seseorang yang bekerja di lingkungan pendidikan, saya tidak sedang menulis untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Itu bukan tugas saya. Biarlah hukum bekerja sebagaimana mestinya.
Baca Juga: Menjaga Rasa Aman Anak di Tengah Riuhnya Dunia Orang Dewasa
Namun ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya: mengapa begitu banyak energi dicurahkan untuk menunjukkan kekuasaan, tetapi begitu sedikit yang digunakan untuk membangun kepercayaan?
Dalam beberapa waktu terakhir, publik menyaksikan ketegangan yang bahkan telah menjadi pemberitaan. Masyarakat melihat bagaimana ruang pendidikan terseret ke dalam konflik yang seharusnya dapat diselesaikan dengan kebijaksanaan. Orang-orang datang membawa legitimasi yang mereka yakini. Pihak lain bertahan dengan keyakinannya sendiri.
Di tengah semua itu, guru, pegawai dan masyarakat hanya menjadi penonton dari sebuah pertarungan yang tidak mereka pilih.
Saya sering berpikir bahwa persoalan terbesar dalam banyak konflik kelembagaan bukanlah soal hukum, aset, atau administrasi. Persoalan terbesarnya adalah hasrat untuk menguasai.
Hasrat yang membuat sebagian orang lebih sibuk memenangkan keadaan daripada memahami keadaan.
Hasrat yang membuat kewenangan perlahan berubah dari amanah menjadi alat penaklukan.
Hasrat yang membuat jabatan terasa lebih penting daripada manusia yang terdampak oleh keputusan-keputusan yang lahir darinya.
Pada titik tertentu, seseorang dapat begitu yakin bahwa dirinya berada di pihak yang benar hingga lupa bahwa cara mencapai tujuan sering kali sama pentingnya dengan tujuan itu sendiri.
Di sinilah saya teringat bahwa pemimpin dan penguasa bukanlah makhluk yang sama.
Penguasa membutuhkan kepatuhan. Pemimpin membutuhkan kepercayaan.
Penguasa merasa kuat ketika orang lain diam. Pemimpin merasa kuat ketika orang lain berani berbicara.
Penguasa sibuk memastikan dirinya diikuti. Pemimpin sibuk memastikan tidak ada manusia yang terluka dalam perjalanan menuju tujuan bersama.
Karena itu, saya selalu merasa ada sesuatu yang janggal ketika dialog datang bersama demonstrasi kekuatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026





