Tiongkok Dorong Pertukaran Baterai Kendaraan Listrik pada 2025, Mampukah Menjadi Standar Global?

AKURAT.CO Tiongkok akan mengembangkan infrastruktur pertukaran baterai kendaraan listrik (EV) secara besar-besaran mulai 2025.
Pertukaran baterai membuat pemilik EV dapat mengganti baterai kosong dengan baterai penuh hanya dalam hitungan menit di stasiun khusus.
Namun, teknologi ini membutuhkan kendaraan dengan kompatibilitas tertentu, yang saat ini hanya tersedia pada beberapa model.
Baca Juga: Ikuti Langkah AS, Kanada Terapkan Tarif 100 Persen pada Kendaraan Listrik Impor dari China
Selain itu, keberhasilan sistem ini juga bergantung pada dukungan produsen mobil dan peningkatan adopsi EV oleh konsumen.
Tiongkok telah menjadi pasar utama EV dunia, dengan 50 persen penjualan mobil baru di negara itu berasal dari kendaraan listrik pada Juli 2024.
Didukung oleh subsidi dan kebijakan pemerintah, Tiongkok menawarkan kondisi ideal untuk investasi infrastruktur EV seperti stasiun pertukaran baterai.
Baca Juga: Adopsi Kendaraan Listrik, Grup SLS Gencar Lakukan Transformasi Hijau di Sektor Pertambangan
Di luar Tiongkok, penerapan teknologi ini masih menghadapi berbagai tantangan.
Misalnya, startup Israel, Better Place, gagal menerapkan sistem pertukaran baterai pada 2007 karena rendahnya adopsi EV dan hambatan logistik.
Sementara itu, perusahaan seperti Ample dan Nio telah mencoba menerapkan solusi serupa di Amerika Serikat dan Eropa, tetapi infrastruktur yang terbatas dan variasi model EV menjadi kendala utama.
Baca Juga: Soroti Kebijakan Kendaraan Listrik Pribadi Oleh Kemenperin, MTI: Harusnya Angkutan Umum
Di AS, adopsi EV murni baru mencapai delapan persen dari total penjualan kendaraan pada November 2024.
Adapun di Eropa, meskipun tingkat adopsi lebih tinggi, keragaman jenis baterai antarprodusen mobil menjadi tantangan besar untuk menciptakan standar yang mendukung pertukaran baterai.
Pertukaran baterai dinilai lebih cocok untuk kendaraan operasional seperti bus, taksi atau kendaraan ride-hailing seperti Uber dan Lyft.
Baca Juga: Dukung Netralitas Karbon 2060, Telkomsel dan MAB Kembangkan Kendaraan Listrik
Dengan waktu penggantian baterai yang lebih cepat dibandingkan pengisian daya, sistem ini dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi waktu tidak produktif di jalan.
Greg Less, Direktur Lab Baterai Universitas Michigan, menyebutkan bahwa pertukaran baterai membutuhkan perubahan pola pikir terkait kepemilikan mobil.
"Di mana saya bisa melihatnya bekerja adalah jika kami sepenuhnya menjauh dari kepemilikan kendaraan dan kami beralih ke model penggunaan sesuai permintaan. Saya rasa kita belum sampai di sana," ujar Less, dikutip dari Apnews.com, Senin (23/12/2024).
Baca Juga: Knowledge Exchange Forum 2024 Bahas Inovasi Pembiayaan Kendaraan Listrik
Meski masih menghadapi tantangan besar, Tiongkok menjadi contoh nyata bahwa inovasi teknologi EV seperti pertukaran baterai memiliki peluang sukses ketika didukung oleh kebijakan dan pasar yang sesuai.
Apakah model ini bisa diadopsi di negara lain? Waktulah yang akan menjawabnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









