Jumlah SPKLU Naik 44 Persen, Kenapa Charging Mobil Listrik Masih Jadi Keluhan?

AKURAT.CO Pertumbuhan mobil listrik (EV) makin terlihat di jalan raya, tetapi pengalaman pemiliknya masih sangat bergantung pada kemudahan pengisian daya. Ketersediaan dan akses charger menjadi faktor penentu kenyamanan penggunaan harian.
Di Indonesia, PLN mencatat 4.655 SPKLU beroperasi sepanjang 2025, naik sekitar 44 persen dari tahun sebelumnya. Namun, antrean, sebaran yang belum merata dan pengisian yang lambat masih jadi keluhan, sebagaimana dikutip dari laman resmi PLN, Selasa (3/3/2026).
Fenomena serupa juga terjadi di pasar global dan ikut memengaruhi laju adopsi EV. Beberapa negara bahkan mulai meninjau ulang investasi infrastruktur charging karena pertumbuhan permintaan tidak selalu sesuai proyeksi awal.
Berikut hal-hal yang kerap disorot dalam infrastruktur charging:
1. Bukan cuma 'jumlah', tapi sebaran dan uptime
Dikutip dari The Guardian, banyak negara menyadari bahwa menambah jumlah charger relatif mudah, tetapi menjaga agar tetap andal jauh lebih menantang. Kesiapan operasional dan tingkat gangguan menjadi faktor krusial bagi pengguna.
Di Inggris, perlambatan pembangunan charger publik pada 2025 dipicu biaya operasional tinggi dan keterbatasan kapasitas listrik. Proses penyambungan ke jaringan yang lambat ikut berdampak pada antrean dan ketidakpastian di lapangan.
Di Indonesia, jumlah SPKLU memang tumbuh cepat, namun potensi ketimpangan lokasi masih ada. Karena itu, strategi pengembangan perlu berbasis pola perjalanan, bukan sekadar mengejar jumlah unit.
2. Bottleneck paling sering: daya, waktu dan antrean
Ada tiga sumber frustrasi paling umum saat charging publik:
- Waktu pengisian: Tidak semua SPKLU punya fast charging dan tidak semua mobil mendukung daya tinggi secara konsisten (faktor suhu baterai, charging curve, hingga kondisi SOC).
- Antrean di jam puncak: Bahkan di negara maju, antrean jadi isu saat penetrasi EV naik lebih cepat dari kapasitas charger publik.
- Kapasitas listrik & upgrade jaringan: Stasiun fast/ultra-fast butuh pasokan daya besar, serta ini sering berbenturan dengan keterbatasan jaringan setempat.
Di Amerika Serikat, pendanaan besar untuk percepatan charger koridor lewat program NEVI tersendat akibat pengadaan, perizinan dan pekerjaan kelistrikan. IEA mencatat hingga akhir 2024, realisasi charger yang benar-benar beroperasi masih jauh di bawah total dana yang dialokasikan.
Baca Juga: Mobil Listrik Laku Keras di Indonesia Meski Pasar Otomotif Lesu
3. Standar konektor, pembayaran dan 'pengalaman pengguna'
Pengguna tidak peduli 'siapa operatornya', yang mereka pedulikan: colok, bayar dan jalan. Di banyak pasar, kompleksitas muncul karena:
- Aplikasi berbeda-beda (harus instal banyak aplikasi)
- Metode pembayaran tidak seragam
- Informasi ketersediaan charger tidak akurat (di aplikasi terlihat kosong, ternyata rusak/terpakai)
Di level industri, fokus kini bergeser dari sekadar menambah jumlah titik ke optimalisasi aset yang sudah ada. Penekanannya pada reliabilitas, perawatan dan integrasi sistem agar operasional lebih efisien.
4. Masalah ekonomi: investor makin selektif, ekspansi bisa melambat
Ketika pertumbuhan EV melambat di sebagian negara, bisnis charging ikut terdampak: utilisasi belum merata, biaya listrik & demand charge tinggi dan balik modal bisa lebih lama. Alhasil, ekspansi tidak selalu linear, bahkan di negara yang EV-nya sudah matang.
Dikutip dari Bloomberg, menilai kebutuhan listrik untuk charging akan melonjak dalam jangka panjang. Artinya, tantangannya bukan sekadar membangun charger, tetapi juga menyiapkan sistem energi yang memadai.
Apa artinya buat pengguna EV di Indonesia?
Dengan SPKLU yang terus bertambah, fokus berikutnya seharusnya bergeser ke 4 hal praktis:
1. Reliabilitas (uptime) & perawatan: charger ada tapi sering gangguan = rasa aman tetap rendah.
2. Sebaran strategis: prioritaskan koridor mudik/antar-kota, simpul transportasi dan kantong EV.
3. Transparansi real-time: status 'available/occupied/fault' wajib akurat.
4. Pengalaman pengguna: pembayaran mudah, interoperabilitas dan dukungan pelanggan yang jelas.
EV memang kian pintar dan baterainya makin efisien, tetapi ekosistem charging yang belum mulus bisa membuat konsumen ragu, terutama untuk perjalanan luar kota.
Pengalaman global menunjukkan, kuncinya bukan jumlah charger, melainkan keandalan dan kenyamanan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini






