Sindrom Anak Perempuan Sulung, Wajib Membantu Orang Tua dan Merawat Adik-adiknya, Wajarkah Itu?

AKURAT.CO Sindrom anak perempuan tertua/sulung adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan beban emosional yang sering ditanggung oleh anak perempuan tertua dalam keluarga mereka,” kata Sanam Hafeez, PsyD, neuropsikolog dan direktur Layanan Psikologi Konsultasi Komprehensif (CCPS) yang berbasis di New York City.
"Anak perempuan tertua harus mendapati diri mereka merawat adik-adiknya, membantu pekerjaan rumah, dan bahkan merawat anggota keluarga yang sakit sejak usia mereka masih belia.”
Ini bukan istilah baru. “Sindrom ini adalah fenomena yang sudah diketahui secara luas, terutama di kalangan anak perempuan tertua yang sering kali harus menghadapi dampak sindrom ini terhadap identitas dan hubungan mereka dalam keluarga,” tambah Dr. Hafeez.
Baca Juga: 5 Film Ini Gambarkan Susahnya Jadi Anak Sulung
Sebuah studi baru memberikan lebih banyak perhatian pada istilah yang sedang tren ini, tetapi inilah mengapa, istilah ini tidak selalu berarti buruk.
Putri sulung telah membuktikan bahwa stereotip urutan kelahiran nyata adanya, hal itu dibuktikan dengan banyaknya dari mereka yang berusaha berbagi pengalamannya dalam sebuah video pendek di TikTok. “Saya anak perempuan tertua, tentu saja saya ikut membesarkan saudara-saudara saya, tetapi orang tua saya tidak mengakuinya,” kata seorang kakak laki-laki dewasa dalam video TikTok.
“Saya anak tertua, tentu saja saya tipe perfeksionis dengan rutinitas yang biasanya dimulai jam 5 pagi.”
Dalam video TikTok lainnya, seorang putri sulung yang jauh lebih muda berkata, “Saya seorang kakak perempuan, tentu saja, ibu saya selalu meminta saya untuk membawakan popok dan tisu.”
Namun penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Lsychoneuroendocrinology lebih dari sekadar bukti anekdotal dan mengamati hubungan antara stres selama kehamilan dan pertumbuhan dini pada anak perempuan pertama.
Dalam studi pertama ini, para peneliti mengamati bahwa khusus anak perempuan sulung mungkin terkena dampak stres prenatal dengan cara yang sangat spesifik.
Anak perempuan tertua berkembang sejak dini dan memiliki kedewasaan yang cukup, yang pada akhirnya membantu dalam membesarkan anak mereka sendiri.
Baca Juga: Punya Anak Perempuan Jadi Resolusi Uut Permatasari di Tahun 2024
Molly M. Fox, PhD, penulis studi dari Departemen Antropologi di Universitas California, Los Angeles, menunjukkan standar di seluruh dunia dan sepanjang sejarah bagi anak perempuan tertua untuk memberikan bantuan dalam keluarga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







