Akurat
Pemprov Sumsel

Tak Lagi Tidur di Bangunan Bambu Beralaskan Tikar, Siswi di Sekolah Pemulung Bantargebang Kini Punya Asrama Layak Huni

Sultan Tanjung | 3 Mei 2024, 21:45 WIB
Tak Lagi Tidur di Bangunan Bambu Beralaskan Tikar, Siswi di Sekolah Pemulung Bantargebang Kini Punya Asrama Layak Huni

AKURAT.CO Daerah Kecamatan Bantargebang di Kota Bekasi, Jawa Barat dikenal luas dengan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) yang menampung sampah warga Jakarta yang jumlahnya ribuan ton perhari hingga jamak tersebar bahwa area TPST tersebut telah menjadi gunung sampah.

Meski demikian, TPST Bantargebang menyimpan sisi lain dimana banyak ribuan manusia menggantungkan penghidupannya bekerja sebagai pemulung memilah sampah-sampah yang masih mempunyai nilai ekonomi guna menyambung kehidupan mereka dan keluarga.

Tak jarang diantara pemulung yang telah berkeluarga tersebut memiliki anak, yang tak jarang mengikuti jejak orangtuanya juga sebagai pemulung.

Guna memutus rantai kehidupan yang demikian dan mengangkat derajat kehidupan yang lebih baik, terdapat sejumlah sukarelawan yang melakukan aktivitas kemanusiaan khususnya dalam bidang pendidikan.

Salah satunya adalah Yayasan Sekolah Alam Tunas Mulia Bantar Gebang yang didirikan oleh Juwarto yaitu sekolah informal yang menampung siswa-siswi pemulung sampah yang bertempat tinggal di sekitar Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di Bantar Gebang.

Sekolah dengan jenjang Pendidikan mulai dari Tingkat PAUD hingga SMA ini mendapatkan pengajaran dari para tenaga sukarela sebagai guru yang mengajarkan pendidikan agama, membaca, berhitung dan beberapa mata pelajaran yang ada pada sekolah formal pada umumnya. 

“Tahun ajaran 2023-2024 sekolah ini menampung 275 siswa, sebagian dari siswa-siswi menghuni asrama pondok yang disediakan satu area dengan sekolah ini," ungkap Juwarto kepada awak media di Bekasi pada Kamis, 2 Mei 2024.

Juwarto mengisahkan bagaimana getirnya perjuangan lembaganya dalam membantu memperjuangkan anak-anak yang kurang beruntung tersebut mulai dari bangunan sederhana untuk asrama siswa dan siswi dari bambu hingga banyak pihak yang turut berkolaborasi mulai dari pemerintah hingga swasta.

“Sekolah Alam Tunas Mulia Bantar Gebang, termasuk dalam Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), ijazah yang dikeluarkan saat lulus SMA setara dengan sekolah formal SMA yang dapat langsung dipakai melanjutkan ke perguruan tinggi untuk mengambil gelar Sarjana. Keberadaan sekolah ini dikawasan TPST Bantar Gebang terasa membantu para pemulung yang tidak mampu menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah formal karena terbentur biaya hidup.'

"Pendidikan gratis yang disediakan oleh kami disini dimanfaatkan oleh mereka untuk menitipkan anak-anak nya mengenyam pendidikan. Banyak pihak yang membantu kami menyediakan fasilitas memadai untuk anak-anak pemulung yang mengenyam pendidikan disini,” tutur Juwarto.

Lahan yang luas disini dimanfaatkan juga oleh para pemberi bantuan untuk menyediakan fasilitas seperti musholla,ruang komputer dan peralatannya, perpustakaan, bahkan bantuan pondokan asrama sebagai hunian yang nyaman bagi siswa dan siswi ini.

Para pemulung yang menitipkan anak-anaknya disini tidak mempunyai hunian yang layak untuk ditinggal bersama anak-anak mereka.

"Ruang kelas sekolah serta pondokan asrama yang disediakan oleh kami juga awal nya hanya berupa ruangan dan pondokan sederhana terbuat dari bambu, tripleks untuk menampung tidak hanya anak pemulung, namun ada juga anak yatim dan piatu, maupun kaum dhuafa yang antusias menitipkan anak – anak mereka disini demi mendapatkan pendidikan gratis, dan hunian demi mengurangi beban hidup mereka, ” lanjut Juwarto.

BKP Hadirkan Asrama Layak Huni

Sebagai perusahaan barang konsumsi yang telah lama hadir di Indonesia,PT Bina Karya Prima atau BKP secara konsisten setiap tahun turut berkolaborasi dengan Sekolah Alam Tunas Mulia guna mewujudkan pendidikan yang berkualitas bagi siswa-siswi di Kampung Pemulung Bantargebang ini bertepatan juga dengan Hari Pendidikan Nasional 2024.

Salah satu kegiatan dari BKP adalah serah terima asrama layak huni untuk para siswi di Sekolah Alam Tunas Mulia.

“Kegiatan kami di Sekolah Alam Bantar Gebang merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya yang dilakukan oleh Tropical cooking oil salah satu merek produk konsumen dari BKP pada Hari Peduli Sampah Nasional 2021 dan Hari Anak Nasional 2022. Melihat adanya peningkatan jumlah siswa siswi yang mengenyam pendidikan di Sekolah Alam Tunas Mulia setiap tahun dan juga peningkatan hunian di asrama pondokan, maka kami terdorong untuk memberikan bantuan hunian terutama bagi asrama pondokan putri yang kondisi bahan bangunannya sangat sederhana dari bambu, tripleks serta tidur beralaskan tikar untuk menampung sebanyak 25 anak putri di hunian tersebut," ungkap Aristo Kristandyo, Sr.VP Marketing, PT Bina Karya Prima kepada awak media.

Aristo berharap asrama baru ini semakin membuat nyaman siswi dalam belajar dan beristirahat serta berdiskusi maupun bercengkrama dengan kawannya.

"Tahun 2024 ini kami bantu sediakan hunian baru yang nyaman serta tempat tidur untuk hunian anak putri yang mulai bertambah di tahun ini menjadi sebanyak 36 anak. Bantuan hunian baru ini diharapkan dapat menunjang kegiatan belajar para siswi saat bersama-sama mengerjakan tugas dari sekolah serta menjadi tempat yang nyaman saat beristirahat.

Aristo juga meyakini asrama ini bisa menjadi rumah bagi anak-anak siswi di Sekolah Alam Tunas Mulia ini dalam menggapai masa depan dan cita-cita yang lebih baik.

"Kami meyakini rumah adalah tempat pertama bagi anak-anak untuk mendapatkan pendidikan non formal dengan baik, sebagai tempat merajut cita-cita. Kiranya hunian baru bagi para siswi di asrama pondokan ini dapat menjadi rumah untuk mencapai masa depan yang lebih baik dalam mencapai cita-cita,” tutur Aristo menutup perbincangan dengan rekan media.

Dalam acara tersebut turut hadir Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi Uu Saeful Mikdar  yang menyambut baik langkah dari BKP dan peran pendidikan non-formal dalam mengembangkan kemampuan masyarakat yang tak tersentuh pendidikan formal. 

“Pendidikan non formal adalah jalur pendidikan diluar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang, paling banyak ditemui pada pendidikan usia dini serta pendidikan dasar, termasuk pendidikan kesetaraan meliputi paket A, paket B dan paket C serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik."

Saeful kemudian mencontohkan beberapa lembaga yang termasuk dari pendidikan non formal tersebut.

"Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, majelis taklim, sanggar, dan lain sebagainya, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik," pungkasnya.

 

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.