Pendidikan Seksual Komprehensif Penting untuk Melindungi Anak dari Kekerasan Seksual

AKURAT.CO Psikolog anak dan remaja Gisella Tani Pratiwi menegaskan pentingnya pendidikan seksual yang komprehensif untuk melindungi anak dari risiko kekerasan seksual.
Menurut Gisella, pemahaman yang tepat tentang seksualitas dapat menjadi langkah awal dalam mencegah anak menjadi korban.
"Pendidikan seksual yang komprehensif sangat penting untuk membantu anak mengenali dan melindungi dirinya dari tindakan kekerasan seksual," ujar Gisella, dikutip dari Antara, Minggu (15/12/2024).
Pendidikan seksual ini, jelas Gisella, mencakup berbagai aspek penting yang disesuaikan dengan usia anak. Misalnya:
1. Perkembangan Fisik dan Psikologis
Anak diajarkan memahami perubahan tubuh mereka saat memasuki masa remaja.
Baca Juga: Piala NBA: Singkirkan Houston Rockets, Oklahoma City Thunder Tantang Milwaukee Bucks di Final
2. Pengenalan Anatomi Tubuh
Anak diajarkan mengenali bagian tubuh yang privat, cara merawatnya, dan bagaimana melindungi diri dari sentuhan yang tidak pantas.
3. Kesetaraan Gender
Anak juga perlu memahami pentingnya kesetaraan gender serta hak mereka dalam menjaga tubuh dari perilaku yang melanggar batas.
Namun, Gisella mengingatkan bahwa pendidikan seksual saja tidak cukup jika tidak didukung oleh lingkungan yang aman dan protektif. "Lingkungan yang tidak mendukung akan memengaruhi efektivitas pendidikan seksual, meskipun telah diajarkan secara komprehensif," ujarnya.
Gisella mendorong pemerintah untuk mulai mengintegrasikan pendidikan seksual dalam kurikulum sekolah, sesuai dengan usia anak.
Kolaborasi dengan para ahli, seperti psikolog dan aktivis kesetaraan gender, juga diperlukan agar pendidikan ini bisa diberikan dengan pendekatan yang tepat.
Baca Juga: 2.500 Jiwa Terdampak Bencana Alam di Sukabumi Harus Segera Direlokasi
Tak hanya sekolah, orang tua dan masyarakat juga perlu mendapatkan edukasi serupa. Hal ini untuk memastikan bahwa semua pihak memahami pentingnya perlindungan terhadap anak.
"Proteksi dari orang dewasa, baik di rumah maupun lingkungan, sangat krusial untuk mencegah kekerasan seksual," tambahnya.
Selain itu, Gisella menekankan pentingnya akses mudah ke layanan perlindungan dan pendampingan bagi korban kekerasan seksual, baik untuk anak, orang tua, maupun masyarakat umum.
Gisella menjelaskan, kekerasan seksual adalah salah satu bentuk kekerasan berbasis gender yang dapat dilakukan oleh siapa saja dan terhadap siapa saja.
Biasanya, pelaku memiliki relasi kuasa lebih besar dibandingkan korban, baik dari segi gender, status sosial-ekonomi, maupun kekuatan fisik.
"Pelaku sering memanfaatkan manipulasi untuk melemahkan korban dan mencapai tujuannya. Dampak kekerasan seksual yang menggunakan manipulasi biasanya jauh lebih kompleks, terutama pada kondisi psikologis korban," tutup Gisella.
Dengan langkah yang terintegrasi antara pendidikan, lingkungan, dan dukungan dari berbagai pihak, Gisella optimistis upaya melindungi anak dari kekerasan seksual dapat dilakukan secara lebih efektif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









