Akurat Logo

Momentum Hardiknas 2026, Kemenkes Dorong Integrasi Layanan Psikososial di Sekolah

Ayu Rachmaningtyas | 3 Mei 2026, 18:48 WIB
Momentum Hardiknas 2026, Kemenkes Dorong Integrasi Layanan Psikososial di Sekolah
Peringatan Hardiknas 2026 sebagai momentum untuk memperluas makna pendidikan. Foto: Ilustrasi/Suaraaisyiyah.id

AKURAT.CO Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi momentum untuk memperluas makna pendidikan. Bukan hanya capaian dalam akademik namun juga kesehatan jiwa dan perlindungan anak.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, menekankan pentingnya integrasi layanan psikososial di lingkungan pendidikan.

Menurutnya, tema "Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua" bukan sekadar slogan seremonial. Namun merupakan bentuk panggilan agar pendidikan dapat dipandang sebagai tanggung jawab kolektif.

"Bukan hanya urusan kurikulum dan ujian, melainkan juga soal keselamatan, kesejahteraan, dan kesehatan jiwa anak-anak yang tumbuh di dalamnya," ujar Imran, melalui keterangan resmi, Minggu (3/5/2026).

Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini tidak hanya terkait akses dan kualitas pembelajaran, namun juga kesehatan mental anak. Aspek ini dinilai kerap terabaikan, nyatanya sangat berpengaruh langsung pada proses belajar.

Baca Juga: Peringati Hardiknas, Komisi X DPR Tolak Penghapusan Prodi di Perguruan Tinggi

"Tanpa perhatian serius terhadap aspek ini, upaya meningkatkan capaian akademik akan selalu terhambat oleh trauma, kecemasan, dan lingkungan yang tidak aman," ujarnya.

"Trauma jangka pendek dapat menurunkan kemampuan belajar, mengganggu tidur dan mengubah perilaku. Sementara dampak jangka panjang bisa berupa gangguan kesehatan jiwa seperti depresi atau PTSD yang menghambat perkembangan sosial dan produktivitas masa depan," jelas Imran.

Selain itu, kesiapan tenaga pendidik juga menjadi perhatian. Saat ini banyak guru dan pengasuh belum sepenuhnya siap menghadapi persoalan kesehatan jiwa.

Karena itu, sekolah harus menjadi tempat di mana anak belajar bukan hanya membaca dan berhitung, tetapi juga merawat diri, menghormati batasan orang lain, dan merasa terlindungi.

"Sebagian besar pendidik melaporkan kebutuhan pelatihan yang lebih intensif dalam deteksi dini tanda-tanda gangguan emosional, teknik intervensi psikososial dasar, serta prosedur rujukan yang jelas," ujarnya.

Baca Juga: Hardiknas 2026, Sekolah Rakyat Jadi Solusi Atasi Anak Putus Sekolah dan Kesenjangan Pendidikan

Imran menyatakan, kondisi tersebut diperparah oleh kelelahan kerja dan kurangnya dukungan profesional. Karena itu, penguatan kapasitas pendidik harus mencakup pelatihan, supervisi, dan akses layanan kesehatan jiwa bagi guru.

"Guru yang sehat secara mental lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan suportif," katanya.

Ia menegaskan, momentum Hardiknas perlu diikuti langkah konkret melalui kolaborasi lintas sektor. Ia menyinggung penandatanganan SKB 9 Menteri tentang Kesehatan Jiwa Anak sebagai dasar penguatan kebijakan.

"Pemerintah daerah dan pusat perlu memperkuat pengawasan terhadap fasilitas pengasuhan, mempercepat implementasi kebijakan lintas sektor terkait kesehatan jiwa anak, serta mengalokasikan sumber daya untuk program pelatihan dan layanan psikososial di sekolah," demikian Imran.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.