Momentum Hardiknas 2026, Kemenkes Dorong Integrasi Layanan Psikososial di Sekolah

AKURAT.CO Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi momentum untuk memperluas makna pendidikan. Bukan hanya capaian dalam akademik namun juga kesehatan jiwa dan perlindungan anak.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, menekankan pentingnya integrasi layanan psikososial di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, tema "Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua" bukan sekadar slogan seremonial. Namun merupakan bentuk panggilan agar pendidikan dapat dipandang sebagai tanggung jawab kolektif.
"Bukan hanya urusan kurikulum dan ujian, melainkan juga soal keselamatan, kesejahteraan, dan kesehatan jiwa anak-anak yang tumbuh di dalamnya," ujar Imran, melalui keterangan resmi, Minggu (3/5/2026).
Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini tidak hanya terkait akses dan kualitas pembelajaran, namun juga kesehatan mental anak. Aspek ini dinilai kerap terabaikan, nyatanya sangat berpengaruh langsung pada proses belajar.
Baca Juga: Peringati Hardiknas, Komisi X DPR Tolak Penghapusan Prodi di Perguruan Tinggi
"Tanpa perhatian serius terhadap aspek ini, upaya meningkatkan capaian akademik akan selalu terhambat oleh trauma, kecemasan, dan lingkungan yang tidak aman," ujarnya.
"Trauma jangka pendek dapat menurunkan kemampuan belajar, mengganggu tidur dan mengubah perilaku. Sementara dampak jangka panjang bisa berupa gangguan kesehatan jiwa seperti depresi atau PTSD yang menghambat perkembangan sosial dan produktivitas masa depan," jelas Imran.
Selain itu, kesiapan tenaga pendidik juga menjadi perhatian. Saat ini banyak guru dan pengasuh belum sepenuhnya siap menghadapi persoalan kesehatan jiwa.
Karena itu, sekolah harus menjadi tempat di mana anak belajar bukan hanya membaca dan berhitung, tetapi juga merawat diri, menghormati batasan orang lain, dan merasa terlindungi.
"Sebagian besar pendidik melaporkan kebutuhan pelatihan yang lebih intensif dalam deteksi dini tanda-tanda gangguan emosional, teknik intervensi psikososial dasar, serta prosedur rujukan yang jelas," ujarnya.
Baca Juga: Hardiknas 2026, Sekolah Rakyat Jadi Solusi Atasi Anak Putus Sekolah dan Kesenjangan Pendidikan
Imran menyatakan, kondisi tersebut diperparah oleh kelelahan kerja dan kurangnya dukungan profesional. Karena itu, penguatan kapasitas pendidik harus mencakup pelatihan, supervisi, dan akses layanan kesehatan jiwa bagi guru.
"Guru yang sehat secara mental lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan suportif," katanya.
Ia menegaskan, momentum Hardiknas perlu diikuti langkah konkret melalui kolaborasi lintas sektor. Ia menyinggung penandatanganan SKB 9 Menteri tentang Kesehatan Jiwa Anak sebagai dasar penguatan kebijakan.
"Pemerintah daerah dan pusat perlu memperkuat pengawasan terhadap fasilitas pengasuhan, mempercepat implementasi kebijakan lintas sektor terkait kesehatan jiwa anak, serta mengalokasikan sumber daya untuk program pelatihan dan layanan psikososial di sekolah," demikian Imran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









