Akurat Logo

Apa Itu Strawberry Moon? Ini Makna, Asal Usul, Keistimewaan, dan Waktu Terjadinya di Indonesia

Nurma Nafisa Faradilla | 30 Juni 2026, 18:00 WIB
Apa Itu Strawberry Moon? Ini Makna, Asal Usul, Keistimewaan, dan Waktu Terjadinya di Indonesia
Ilustrasi strawberry moon. (Magnific)

AKURAT.CO Langit malam pada akhir Juni 2026 kembali dihiasi fenomena astronomi yang menarik perhatian para pecinta langit, yaitu Strawberry Moon atau bulan purnama Juni. Fenomena ini dapat diamati dari seluruh wilayah Indonesia tanpa memerlukan teleskop maupun alat bantu khusus, asalkan cuaca cerah dan langit tidak tertutup awan.

Meski namanya identik dengan buah stroberi, banyak orang masih mengira Strawberry Moon adalah bulan yang berubah warna menjadi merah muda. Anggapan tersebut sebenarnya kurang tepat karena nama Strawberry Moon tidak berkaitan dengan warna bulan.

Lantas, apa itu Strawberry Moon, kapan puncaknya terjadi, dan mengapa fenomena ini begitu istimewa? Berikut penjelasan lengkapnya.

Baca Juga: Jadwal Babak 32 Besar Piala Dunia 2026 hingga Final, Catat Tanggal Pertandingannya!

Apa Itu Strawberry Moon?

Strawberry Moon adalah sebutan tradisional untuk bulan purnama yang terjadi pada bulan Juni. Nama ini tidak merujuk pada perubahan warna bulan menjadi merah muda, melainkan berasal dari tradisi masyarakat adat Amerika Utara yang menggunakan fase bulan sebagai penanda pergantian musim.

Fenomena ini merupakan bagian dari siklus alami bulan yang terjadi setiap bulan saat Matahari, Bumi, dan Bulan berada hampir segaris sehingga seluruh permukaan bulan yang menghadap Bumi tampak diterangi cahaya Matahari.

Karena hanya merupakan nama tradisional, Strawberry Moon secara ilmiah tetap merupakan fase bulan purnama biasa.

Kapan Puncak Strawberry Moon 2026?

Berdasarkan data astronomi internasional, puncak fase bulan purnama Juni 2026 terjadi pada 29 Juni 2026 pukul 23.56 UTC.

Jika dikonversi ke waktu Indonesia, puncaknya berlangsung pada:

  • WIB: Selasa, 30 Juni 2026 pukul 06.56 WIB.

  • WITA: Selasa, 30 Juni 2026 pukul 07.56 WITA.

  • WIT: Selasa, 30 Juni 2026 pukul 08.56 WIT.

Namun, karena waktu puncak terjadi pada pagi hari ketika bulan sudah berada di bawah horizon, masyarakat Indonesia tidak dapat mengamatinya tepat pada jam tersebut.

Waktu terbaik menikmati Strawberry Moon adalah sejak Senin malam, 29 Juni 2026, setelah matahari terbenam hingga menjelang fajar pada Selasa, 30 Juni 2026.

Selain itu, bulan juga akan tampak hampir bulat sempurna selama sekitar tiga hari, yaitu sehari sebelum hingga sehari setelah puncak fase purnama.

Baca Juga: Hari Ini Tanggal Berapa Hijriah? Cek Kalender Islam 30 Juni 2026

Baca Juga: Magang Nasional Kemnaker 2026 Batch 2 Dibuka Juli, Ini Jadwal Pendaftaran dan Tahapan Seleksinya

Mengapa Disebut Strawberry Moon?

Nama Strawberry Moon berasal dari tradisi suku suku asli Amerika Utara, terutama suku Algonquin, Ojibwe, Dakota, dan Lakota.

Bagi masyarakat adat tersebut, bulan purnama yang muncul pada Juni menjadi penanda dimulainya musim panen stroberi liar yang matang pada periode tersebut. Karena itulah bulan purnama Juni kemudian dikenal sebagai Strawberry Moon.

Tradisi penamaan bulan berdasarkan musim telah digunakan selama berabad abad sebagai kalender alami untuk membantu masyarakat menentukan waktu berburu, bercocok tanam, hingga panen.

Pada dekade 1930 an, nama nama tradisional bulan purnama ini semakin dikenal luas setelah dipublikasikan secara rutin oleh The Old Farmer's Almanac.

Fakta Menarik Fenomena Strawberry Moon: Tidak Berwarna Merah Muda

Banyak orang mengira Strawberry Moon akan tampak berwarna merah muda seperti buah stroberi. Faktanya, nama tersebut sama sekali tidak berhubungan dengan warna bulan.

Dalam kondisi tertentu, bulan memang dapat terlihat kekuningan, jingga, atau kemerahan ketika berada rendah di dekat cakrawala. Warna tersebut terjadi akibat pembiasan cahaya oleh atmosfer Bumi, bukan karena fenomena Strawberry Moon.

Dengan kata lain, Strawberry Moon hanyalah nama tradisional untuk bulan purnama yang terjadi pada bulan Juni.

Fenomena Strawberry Moon tahun ini memiliki keunikan tersendiri karena sekaligus berstatus sebagai micromoon.

Micromoon terjadi ketika bulan purnama berada di titik terjauh dari Bumi dalam orbitnya atau yang dikenal sebagai apogee.

Akibatnya, ukuran bulan akan tampak sekitar 7 persen lebih kecil dan sedikit lebih redup dibandingkan bulan purnama rata rata.

Walaupun perbedaannya sulit dikenali dengan mata telanjang, status micromoon menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengamat langit.

Menariknya lagi, Strawberry Moon kali ini menjadi micromoon terakhir sepanjang tahun 2026.

Mengapa Strawberry Moon Terlihat Berbeda di Indonesia?

Fenomena Strawberry Moon tahun ini terjadi tidak lama setelah titik balik matahari musim panas atau summer solstice di belahan Bumi utara.

Akibat kondisi tersebut, lintasan bulan bagi pengamat di belahan Bumi utara akan tampak lebih rendah dari biasanya.

Baca Juga: Israel Akui Batasi Operasi terhadap Hizbullah karena Prioritas Diplomasi AS–Iran

Sebaliknya, bagi masyarakat yang berada di belahan Bumi selatan, termasuk Indonesia, bulan justru terlihat lebih tinggi di langit sehingga menjadi kesempatan menarik untuk melakukan pengamatan.

Strawberry Moon Menjadi Perpaduan Sains dan Budaya

Selain menjadi fenomena astronomi, Strawberry Moon juga menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan dan budaya saling berkaitan.

Secara ilmiah, fenomena ini merupakan bagian dari siklus orbit bulan mengelilingi Bumi yang menyebabkan terjadinya fase purnama setiap bulan.

Sementara itu, secara budaya, nama Strawberry Moon menjadi warisan masyarakat adat yang memanfaatkan fase bulan sebagai kalender alami untuk menandai musim panen, perubahan cuaca, hingga berbagai aktivitas sosial.

Karena itu, Strawberry Moon tidak hanya menarik bagi para astronom, tetapi juga menjadi pengingat tentang hubungan erat antara manusia, alam, dan perkembangan peradaban sejak ratusan tahun lalu.

Baca Juga: Gen Z Kuasai Demografi

Baca Juga: DPR Setujui Tujuh Anggota Komisi Informasi Pusat

FAQ

Apakah Strawberry Moon berwarna merah muda?

Tidak. Strawberry Moon tidak membuat bulan berubah menjadi merah muda. Nama tersebut berasal dari musim panen stroberi liar di Amerika Utara.

Apa yang dimaksud dengan micromoon?

Micromoon adalah kondisi ketika bulan purnama berada di titik terjauh dari Bumi atau apogee sehingga ukuran bulan tampak sedikit lebih kecil dan lebih redup dibandingkan biasanya.

Apakah Strawberry Moon bisa dilihat di Indonesia?

Ya. Fenomena Strawberry Moon dapat diamati dari seluruh wilayah Indonesia tanpa alat bantu khusus selama kondisi cuaca cerah. Waktu terbaik untuk mengamatinya adalah sejak malam hari setelah matahari terbenam hingga menjelang fajar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.