Survei Charta Politika: Gibran Belum Punya Kualifikasi Cawapres

AKURAT.CO Wali Kota Solo Gibran Rakabuming dianggap belum memenuhi kualifikasi menjadi cawapres. Survei dari Charta Politika menunjukkan, sebanyak 48,9 persen responden menganggap putra sulung Presiden Jokowi belum pantas jadi cawapres.
Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya mengatakan, hanya 38,2 persen dari total 2.400 responden yang menganggap, suami Selvi Ananda menganggap Gibran sudah punya kapasitas. Yunarto menyebut, data ini menunjukkan Gibran menjadi beban tersendiri bagi capres Prabowo Subianto.
“48,9 persen menyatakan tidak pantas, dan ada 38,2 persen pantas, saya pikir kalau kita lihat mungkin ini salah satu faktor Mas Gibran ini punya potensi untuk menjadi beban bagi Pak Prabowo,” kata Yunarto, dalam pemaparan hasil survei secara daring, di Jakarta, Senin (6/11/2023).
Sedangkan 12,9 persen responden memilih tidak tahu atau tidak menjawab ketika ditanya pendapatnya. Sementara mayoritas responden menilai Gibran belum pantas jadi cawapres karena harus membuktikan terlebih dulu kompetensinya.
Responden yang berasal dari seluruh provinsi di Indonesia menganggap Gibran masih terlalu muda, dan belum memiliki pengalaman mumpuni menjadi RI 2.
Hasil survei Charta Politika juga mengungkap, sebanyak 26,7 persen responden menganggap Gibran belum layak lantaran hasil praktik politik dinasti, ketika diminta alasan menganggap tidak pantas. Sedangkan 12,4 persen menjawab pencalonan Gibran penyalahgunaan kekuasaan Jokowi, dan 3,2 persen menjawab Gibran tidak loyal terhadap partai.
Baca Juga: Sembilan Partai Perkuat Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran
“Kita lihat dalam beberapa rangkaian pertanyaan, keputusan MK nya sendiri sudah dianggap kontroversial dan tone-nya negatif, dianggap penyalahgunaan wewenang oleh mayoritas responden, dan kemudian terkait dengan tingkat kepantasan pun lebih banyak yang menyatakan bahwa Mas Gibran tidak pantas,” papar Yunarto.
Data tersebut, kata Yunarto, membuktikan pernyataan Gibran pada momen deklarasi yang menenangkan Prabowo bahwa dirinya benar-benar sudah masuk kontestasi, tak bisa meyakinkan publik.
Baca Juga: Gibran Diundang Hadiri HUT Golkar, Diumumkan Jadi Kader?
“Artinya memang kita bisa lihat, atau berspekulasi dan membuat hipotesa, bahwa masuknya Mas Gibran sebagai cawapres, itu malah menjadi beban, bukan menjadi aset,” katanya.
“Walaupun Mas Gibran dengan pede mengatakan, ‘Tenang Pak Prabowo, tenang Pak Prabowo, saya ada di sini’, tetapi ternyata setelah kita baca peta elektoral, malah secara statistik dan kuantitatif itu menjadi beban bagi Pak Prabowo,” sambung pria yang akrab disapa Toto.
Baca Juga: Kasus Etik Anwar Usman Cs Segera Diputus, Golkar Yakin Gibran Tidak Jegal
Menurutnya, sentimen negatif publik dipicu dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK), yang memberi Gibran lampu hijau untuk mencalonkan. Sentimen ini juga berdampak pada MK sehingga diplesetkan menjadi Mahkamah Keluarga.
“Sentimen negatif terhadap isu Mahkamah Keluarga ini sedemikian besar, dan itu kemudian menurut saya menjadi beban buat Pak Prabowo,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









