AKURAT.CO Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) berharap pemilu 2024 bukan sekadar pemilu basa basi untuk memilih calon pemimpin.
Hal itu disampaikan oleh Dewan Pembina Perludem, Titi Anggraini, dalam diskusi bertajuk “Cawe-cawe Presiden dan Senjakala Demokrasi: Outlook LP3ES 2024,” yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting, Minggu (28/1/2024).
Baca Juga: Perludem: Bawaslu Harus Awasi PKPU Syarat Eks Napi Korupsi Maju Pileg
Menurut Titi, sistem pemilu modern seharusnya berjalan bukan sebagai praktik reguler untuk melancarkan kekuasaan bagi para elite politik.
“Demokrasi modern menempatkan pemilu bukan sekadar praktik reguler untuk sirkulasi elite politik. Pemilu harus terselenggara berkala secara bebas dan adil sesuai asas dan prinsip pemilu demokratis, yakni periodic and genuine elections,” ujar Titi dalam paparannya.
Senapas dengan itu, kata Titi, sesuai dengan Pasal 22E ayat (1) dan (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI) Tahun 1945 mengatur bahwa pemilu dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil setiap lima tahun oleh suatu Komisi Pemilihan Umum yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri.
Lebih lanjut, dia juga berharap pemilu 2024 bisa berjalan dengan konsep bersandar pada rakyat. Artinya, segala kekacauan yang terjadi dalam proses pemilu sejauh ini membuat masyarakat semakin sadar untuk menjaga pemilu 2024 bisa berjalan dengan baik.
“Politisasi pengadilan dan lembaga-lembaga negara, produk reformasi, dugaan kecurangan yang terbiarkan, dan carut marut penyelenggaraan pemilu, melahirkan kesadaran kewargaan yang autentik untuk menjaga dan memertahankan kemurnian suara pemilih melalui gerakan pengawalan pemilu 2024,” beber Titi.
Adapun kesadaran masyarakat tersebut terbukti dengan banyaknya aplikasi ataupun situs, yang bisa digunakan untuk memantau jalannya pemilu.
“Inisiatif jagapemilu.com, aplikasi jagasuara2024, gerakan dan aplikasi jagasuaramu.id, Komunitas Pemilu Bersih, Platform Peta Kecurangan Pemilu, serta berbagai koalisi masyarakat sipil peduli pemilu lainnya jadi benteng pertahanan rakyat untuk tidak jatuh ke jurang autokrasi elektoral, ketika pemilu terselenggara, tapi sekadar basa basi untuk melanggengkan kekuasaan,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









