Pengamat: Dugaan Keterlibatan Penguasa dalam Pemilu Bukan Ranah KPU-Bawaslu

AKURAT.CO Perguliran hak angket pada DPR RI jelas diperlukan untuk mengatasi wacana keterlibatan kekuasaan dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah Putra menilai, hal ini dikarenakan keterlibatan kekuasaan bukan lah wilayah dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) ataupun Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).
“Semisal soal polemik keputusan MK yang secara langsung diakui oleh KPU, itu memiliki unsur pelanggaran konstitusi, dan KPU atau Bawaslu jelas tidak dapat menangani,” kata Dedi kepada Akurat.co, Minggu (25/2/2024).
Baca Juga: Kementan Tinjau Irigasi Perpompaan Kelompok Tani di Sukabumi
Hal ini ditekankannya bisa masuk pelanggaran Undang-Undang (UU) oleh KPU, karena KPU seharusnya mengikuti UU bukan keputusan dari Mahkamah Konstitusi (MK).
Lebih lanjut, Dedi menuturkan, kelompok-kelompok tertentu yang menyebutkan hak angket untuk pelanggaran pemilu salah alamat, pada satu sisi benar tetapi tidak bijak.
“Karena hak angket memang tidak bisa telusuri pelanggaran Pemilu secara teknis, tapi pelanggaran atas penyalahgunaan kewenangan terkait pemilu, tentu sangat relevan,” tuturnya.
Adapun, hak angket diperlukan sebagai bagian dari hak konstitusi warga negara melalui DPR. Kemudian, hak angket terkait Pemilu 2024 tidak selalu terkait langsung dengan pelanggaran teknis Pemilu.
Diketahui, wacana hak angket muncul usai capres nomor urut 3, Ganjar Pranowo mengusulkan agar partainya menggunakan hak tersebut di DPR. Hak ini diinginkannya sebagai salah satu upaya untuk meminta pertanggungjawaban KPU dan Bawaslu terkait penyelenggaraan Pilpres 2024.
"Jika DPR tak siap dengan hak angket, saya mendorong penggunaan hak interpelasi DPR untuk mengkritisi kecurangan pada Pilpres 2024," kata Ganjar dalam keterangan tertulis, Senin (19/2/2024).
Setelahnya, wacana ini kemudian menjadi sorotan di tengah-tengah publik. Terdapat beberapa pihak yang mengeluarkan argumen mendukung, ada pula beberapa pihak yang mengeluarkan argumen kontra.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









