Akurat Logo

Efek Jokowi Masih Kuat di Pilkada 2024

Atikah Umiyani | 1 Juni 2024, 19:09 WIB
Efek Jokowi Masih Kuat di Pilkada 2024

AKURAT.CO Presiden Joko Widodo (Jokowi) dinilai masih memiliki efek yang kuat dalam perhelatan Pilkada 2024. Terlihat dari banyaknya kritikan pasca Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep muncul sebagai salah satu kandidat di Pilkada Jakarta.

Maraknya kritikan itu sebagai bukti bahwa banyak pihak yang merasa takut jika putra Jokowi tersebut terlibat dalam kontestasi.

"Nah ini kan membuktikan bahwa Jokowi efect masih ada, salah satunya membuat mereka ketakutan, itu kan salah satu bentuk Jokowi efect," kata Ketua Umum Relawan Jokowi Mania, Immanuel Ebenezer, saat dihubungi, Sabtu (1/6/2024).

Baca Juga: Jokowi Mania Tanggapi Kaesang Maju Pilkada: Itu Hak Dia, Eggak Ada yang Salah

Bahkan, pria yang akrab disapa Noel ini menyebut, banyak orang yang hampir gila karena dinilai tak sanggup menyaingi efek Jokowi baik dalam pilpres maupun pilkada mendatang.

Hal itu juga dia sampaikan sebagai luapan kekesalannya, karena banyak pihak yang selalu menyeret dan mengolok-olok Jokowi dalam situasi dan keadaan apapun.

"Buktinya banyak orang kesurupan tuh, pada gila. Jadi Jokowi efect kalau dulu punya dampak elektoral, sekarang punya dampak orang menjadi gila. Mungkin kali mereka lagi coba merumuskan cara melawan Jokowi gimana ya, pakai cara A, B, C, D, semua dengan cara apapun gak bisa-bisa kan," sambungnya.

Noel lantas menyarankan kepada semua pihak, termasuk lawan-lawan politiknya untuk menerima hasil pilpres kemarin dengan lapang dada. Dia berharap, Pilkada 2024 nanti bisa berjalan dengan aman, damai dan harmonis.

"Bukan soal ngelawan Jokowi, harusnya mereka lebih terbuka menghadapi situasi politik 2024 kemarin, pemilu ini kan bukan 2024 aja, 2029 ada, 2034 ada, 2039 ada, jadi kenapa harus takut," pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.