Akurat
Pemprov Sumsel

Belajar dari Pengalaman, AHY Enggan Buru-buru Ambil Sikap di Pilkada Jakarta

Atikah Umiyani | 3 Juli 2024, 11:03 WIB
Belajar dari Pengalaman, AHY Enggan Buru-buru Ambil Sikap di Pilkada Jakarta

AKURAT.CO Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengaku tidak ingin terburu-buru menentukan pilihan dalam menghadapi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta 2024.

Sikap itu diambil karena AHY belajar dari pengalaman saat Pilkada Jakarta 2017 silam. Ketika itu, AHY yang berpasangan dengan Sylviana Murni harus mengakui kekalahan sejak putaran pertama.

"Kalau bicara Pilkada DKI, saya ingat lima tahun lalu, saya ibu Sylviana Murni, kalau teman teman ingat juga kami dulu berjuang di Pilkada Jakarta. Jadi selalu memang Pilkada Jakarta ini menjadi daya tarik sendiri. Oleh karena itu kami tidak tergesa gesa, tidak terburu-buru," kata AHY di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, dikutip Rabu (3/7/2024).

Baca Juga: Kasus PDN Jadi Pelajaran, AHY: Jangan Cuma Ikut-Ikutan Digitalisasi, Fokus Juga Pada Keamanan

Menurutnya, masih ada waktu yang cukup bagi partainya dan Koalisi Indonesia Maju (KIM) untuk menentukan sikap di Pilkada Jakarta 2024. Saat ini, pihaknya pun masih terus mendalami figur-figur potensial yang punya peluang besar untuk menang.

"Kami di Demokrat dan teman-teman di KIM masih mencari sosok yang paling tepat dan figur yang punya kans untuk menang," ujarnya.

Dia menegaskan, penentuan figur yang akan diusung sebagai calon gubernur dan wakil gubernur bukanlah hal yang mudah. Sebab, penentuan harus diambil dengan perhitungan yang matang.

"Kita tahu, tidak mudah, tidak sederhana pasca pemilu kemarin terus kita hitung petanya seperti apa di DKI Jakarta, maupun di provinsi lain. Karena tarikannya tidak hanya di DKI tapi ada Jabar, ada Jateng, ke Jatim dan lain sebagainya," pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.