DPR Desak Pemerintah Siapkan Skenario Krisis jika Selat Hormuz Ditutup

AKURAT.CO Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Aria Bima, mendesak pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk segera menyusun skenario krisis jika konflik Iran-Israel berdampak pada penutupan Selat Hormuz.
Jalur strategis tersebut merupakan penghubung utama pasokan energi dunia, dan jika terganggu, dinilai akan mengguncang ketahanan energi dan pangan nasional.
“Kalau Selat Hormuz ditutup, itu persoalan harga minyak kita. Kebutuhan per hari 1,4 juta barel, produksi kita hanya 600 ribu. Impor crude oil saja 400 ribu, dan kebutuhan BBM-nya hampir 1 juta barel sendiri,” kata Aria kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (25/6/2025).
Politikus senior PDIP ini mengingatkan, krisis global akan berdampak luas, tak hanya pada sektor energi, tetapi juga pangan dan pupuk yang banyak diimpor dari negara-negara yang bergantung pada jalur Hormuz.
“Bukan cuma BBM, info yang saya dapat bahan baku pupuk dan gandum juga melewati Selat Hormuz. Kalau itu terganggu, bisa memicu kontraksi besar di sektor pangan,” jelasnya.
Aria menilai, kondisi fiskal dan likuiditas nasional belum cukup kuat untuk menghadapi skenario guncangan global besar. Karena itu, menurutnya, sektor pangan harus menjadi prioritas utama.
“Kalau saya, yang pertama amankan pangan dulu. Dunia mau ribut, BBM mau naik, yang penting pangan aman—dari sisi ketersediaan dan keterjangkauannya,” tegasnya.
Baca Juga: Di Retreat, BGN Tekankan Pentingnya Koordinasi Pemerintah Pusat dan Daerah untuk Program MBG
Ia menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap impor pangan dan energi yang masih tinggi dan belum diselesaikan secara struktural.
“Kita jujur saja, belum mandiri. Pangan belum, energi belum, fiskal juga tergantung utang. Gandum, kedelai—itu kebutuhan rakyat. Maka buffer stock perlu diperkuat sekarang,” ungkapnya.
Aria meminta agar pemerintah segera merancang berbagai skenario krisis, termasuk jika konflik berkepanjangan dan akses perdagangan terganggu.
“Harus ada plan A, plan B, plan C. Termasuk skenario kalau Selat Hormuz buka-tutup atau konflik berkepanjangan dengan campur tangan Amerika dan proksi-proksinya,” ujarnya.
Dalam menghadapi ketidakpastian global, Aria juga mendorong diversifikasi kerja sama dagang dan penyediaan pangan dengan negara-negara di Asia yang lebih stabil.
“Kita harus bangun komitmen perdagangan baru dengan negara-negara Asia yang masih bisa kita akses,” katanya.
Selain itu, ia menilai penting untuk mempercepat produksi pangan alternatif pengganti bahan pokok impor, seperti mie berbasis beras untuk substitusi gandum.
“Kita perlu dorong alternatif seperti bihun, pakanan lokal, tempe berbahan baku lokal. Jangan hanya andalkan satu skenario yang bisa meleset karena situasinya sangat tidak terprediksi,” tegasnya.
Aria juga memperingatkan bahwa krisis global bisa diperparah jika ekonomi China dan Amerika Serikat mengalami perlambatan atau proteksi perdagangan meningkat.
Baca Juga: Bersiap untuk Piala Presiden, Dewa United Bakal 'Panaskan Mesin' Mulai 27 Juni
“Kalau China krisis, ekspor kita turun. Belum lagi proteksi 47 persen ke AS. Itu akan pukul industri padat karya kita. Risiko deindustrialisasi bisa terjadi,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









