Akurat
Pemprov Sumsel

Media Rusia Bongkar Dalang Asing di Balik Demo DPR, Nama George Soros Jadi Sorotan

Ahada Ramadhana | 1 September 2025, 19:13 WIB
Media Rusia Bongkar Dalang Asing di Balik Demo DPR, Nama George Soros Jadi Sorotan

AKURAT.CO Gelombang protes yang melanda Indonesia sepanjang Agustus 2025 tidak hanya memicu kekhawatiran di dalam negeri, tetapi juga menjadi sorotan analis geopolitik internasional.

Sejumlah pakar menilai dinamika ini tidak bisa dilepaskan dari potensi campur tangan asing yang memanfaatkan isu ekonomi rakyat sebagai pemicu.

Dalam laporan media Rusia Sputnik, analis geopolitik, Angelo Giuliano, menyebut dua lembaga internasional, yakni National Endowment for Democracy (NED) dan Open Society Foundations (OSF) milik taipan George Soros, sudah lama beroperasi di Indonesia.

Sejak dekade 1990-an, keduanya dinilai aktif memberikan dukungan pada media dan kelompok tertentu.

“Jika kita melihat pola gerakan, ini bukan hal baru. Ada benang merah dengan strategi geopolitik Barat di kawasan Indo-Pasifik, apalagi di tengah memanasnya situasi Thailand-Kamboja,” ujar Giuliano, dikutip pada Senin (1/9/2025).

Lebih jauh, Giuliano menyoroti fenomena penggunaan simbol bendera bajak laut dari anime Jepang One Piece yang muncul dalam aksi massa, terpampang di tembok, mobil, hingga pintu.

Menurutnya, pola semacam ini mirip dengan taktik yang pernah muncul dalam sejumlah “revolusi warna” di negara lain.

Baca Juga: Klasemen Liga Spanyol: Barcelona Turun ke Posisi 4, Beri Jalan Real Madrid ke Puncak

“Mungkin keluhannya terkait ekonomi rakyat, tapi simbol-simbol ini mengisyaratkan adanya arahan dari luar,” tambahnya.

Akibat eskalasi aksi massa, Presiden Prabowo Subianto bahkan terpaksa menunda lawatan ke Tiongkok dan batal menghadiri KTT Shanghai Cooperation Organization (SCO).

Pandangan senada datang dari pengamat geopolitik lain, Jeff J Brown, yang menilai Indonesia kini berada di garis depan tarikan kepentingan global.

Sebagai negara Asia Tenggara pertama yang bergabung dengan BRICS, sekaligus mitra penting Tiongkok dalam inisiatif Belt and Road, Indonesia menurutnya berpotensi besar menjadi target “rekayasa politik” ala Barat.

“Dengan populasi hampir 300 juta jiwa, ekonomi terbesar di ASEAN, dan berada di urutan kedelapan dunia berdasarkan PPP, Indonesia tidak mungkin luput dari perhatian,” kata Brown.

Analisis asing ini kian menarik jika dikaitkan dengan pernyataan mantan Kepala BIN, AM Hendropriyono beberapa waktu lalu.

Ia mengingatkan bahwa gelombang protes mahasiswa di DPR bukanlah semata-mata lahir dari aspirasi murni, melainkan ada kemungkinan dikendalikan kekuatan asing yang ingin mengguncang stabilitas nasional.

Menurut Hendropriyono, pola semacam ini lazim digunakan pihak luar untuk menguji ketahanan negara berkembang: memanfaatkan keresahan publik, lalu mengarahkan energi protes ke arah destabilisasi politik.

"Karena saya tahu, saya enggak lebih pintar dari kalian. Tapi saya mengalami semua. Dan ini ada yang main. Pada waktunya saya bisa sampaikan namanya. Itu dari sana (pihak asing),” kata Hendropriyono.

Gelombang protes Agustus 2025 dengan cepat bergeser dari isu ekonomi menuju kericuhan anarkistis.

Baca Juga: Kode Redeem Free Fire 1 September 2025, Klaim Hadiah Eksklusif Gratis!

Di titik inilah muncul dugaan adanya infiltrasi agenda asing yang memanfaatkan ruang kebebasan demokrasi Indonesia.

Meski demikian, pemerintah menegaskan tetap menghormati hak berpendapat rakyat selama dilakukan damai.

Namun, peringatan Presiden Prabowo soal gejala makar, ditambah analisis geopolitik internasional serta sinyal Hendropriyono, memberi pesan jelas: Indonesia tengah berada di persimpangan geopolitik global, di mana setiap langkah bisa menjadi sasaran permainan kekuatan asing.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.