'Jokowi Returns' Harus Kedepankan Pertanggungjawaban, Bukan Ajang Politik

AKURAT.CO Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, menyindir rencana Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) yang disebut akan lebih sering turun ke daerah.
Dia menilai, seorang pemimpin seharusnya lebih mengedepankan pertanggungjawaban atas kebijakan yang pernah diambil, dibanding melakukan aktivitas yang terkesan bernuansa politik.
Dalam upacara peringatan Hari Lahir Pancasila yang digelar PDIP, dia menekankan pentingnya menjaga demokrasi sebagai warisan perjuangan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.
Baca Juga: Jelang 2029, Jokowi Returns Jadi Titik Panas Pertarungan PDIP dan PSI
Menurutnya, Megawati telah memperjuangkan demokrasi sejak bergabung dengan PDI pada 1986 dengan membangun kekuatan akar rumput, dan membuka ruang bagi suara rakyat yang saat itu dibungkam oleh rezim Orde Baru.
"Kekuatan akar rumput ini terbukti mampu menghadapi sistem pemerintahan Orde Baru yang sangat otoriter," kata Hasto, di Sekolah Partai Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (1/6/2026).
Hasto kemudian mengingatkan bahwa kondisi demokrasi Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius. Kondisi tersebut lahir dari ambisi kekuasaan yang menggerus kualitas demokrasi dan penegakan hukum di Indonesia.
Dalam konteks itu, Hasto menyinggung pihak-pihak yang mulai turun ke masyarakat. Meski tidak menyebut nama secara langsung dalam pidatonya, dia menilai aktivitas tersebut tidak boleh sekadar dimaknai sebagai upaya membangun popularitas politik.
"Kalau ada yang mau turun, belum-belum sudah mau sepertinya kampanye itu sebagai suatu yang sangat penting. Harusnya ini yang dipertanggungjawabkan kepada rakyat, apa yang dulu telah dilakukan sebagai pemimpin yang ternyata telah menciptakan kerusakan demokrasi dan sistem hukum kita akibat ambisi kekuasaan," kata Hasto.
Usai upacara, dia kembali dimintai tanggapan mengenai isu Jokowi yang disebut akan berkeliling ke berbagai daerah. Dia mengaku persoalan tersebut sebelumnya telah dijawab oleh Ketua DPP PDIP, Djarot Saiful Hidayat.
Meski demikian, Hasto menegaskan bahwa berbagai persoalan yang kini dihadapi pemerintahan Presiden Prabowo tidak dapat dilepaskan dari kebijakan yang diambil pada periode sebelumnya.
"Presiden Prabowo kita lihat menghadapi berbagai persoalan fiskal. Itu bukan karena Presiden Prabowo, tapi juga akibat-akibat sebelumnya," ujarnya.
Hasto kemudian mengkritik sejumlah kebijakan pada era pemerintahan Jokowi. Seperti penggunaan anggaran bantuan sosial yang menurutnya dilakukan untuk kepentingan elektoral, proyek infrastruktur yang dinilai tidak memberikan efek pengganda yang memadai terhadap perekonomian, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), hingga kebijakan hilirisasi yang disebut hanya menguntungkan kelompok oligarki.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








