Survei LPI: Jokowi Masih Jadi Magnet Politik untuk PSI

AKURAT.CO Sosok Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), dinilai masih menjadi magnet politik yang kuat bagi Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Hasil survei nasional Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) menunjukkan, 77,8 persen masyarakat menilai Jokowi berpengaruh terhadap dukungan publik kepada PSI.
Temuan itu terungkap dalam survei bertajuk "Pengaruh Sosok Jokowi terhadap Citra Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dalam Pandangan Masyarakat" yang dilakukan secara daring pada 10–17 Juni 2026 di 32 provinsi dengan melibatkan 1.922 responden.
Direktur Riset dan Kebijakan Politik LPI, Fernando Emas, mengatakan hasil survei menunjukkan adanya fenomena image transfer atau perpindahan citra dari figur Jokowi kepada PSI yang dikabarkan akan dipimpinnya sebagai Ketua Dewan Pembina.
Baca Juga: Meski Diuntungkan Efek Jokowi, Elektabilitas PSI Masih Rendah
"Dari temuan survei LPI, image transfer terjadi antara figur Jokowi dengan PSI yang dikabarkan bakal menjadi Ketua Dewan Pembina partai ini," kata Fernando kepada wartawan di Jakarta Selatan, Jumat (19/6/2026).
Dia menjelaskan, sebanyak 77,8 persen responden menilai Jokowi memiliki pengaruh terhadap dukungan masyarakat kepada PSI. Rinciannya, 35,8 persen responden menyebut berpengaruh, 30,9 persen cukup berpengaruh, dan 11,1 persen sangat berpengaruh.
Sementara itu, 16,9 persen responden menilai kurang berpengaruh, 3,5 persen tidak berpengaruh, dan 1,8 persen tidak menjawab atau tidak tahu.
Tak hanya memengaruhi dukungan politik, kedekatan PSI dengan Jokowi juga dinilai berdampak positif terhadap citra partai tersebut. Sebanyak 70,2 persen responden menyatakan hubungan PSI dengan Jokowi mampu meningkatkan kesan positif terhadap partai berlambang mawar itu.
"Sebanyak 37,7 persen responden menilai dapat meningkatkan, 26,4 persen cukup dapat meningkatkan, dan 6,1 persen sangat dapat meningkatkan," ujarnya.
Baca Juga: Roy Suryo Ditangkap, Jokowi Siap Hadir di Persidangan dan Tunjukkan Ijazah Asli
Adapun 15,5 persen responden menilai kedekatan tersebut tidak dapat meningkatkan citra PSI, 10,5 persen menyebut kurang dapat meningkatkan, dan 3,8 persen tidak memberikan jawaban.
Fernando menilai, temuan tersebut menggambarkan bahwa politik Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh kekuatan figur. Menurutnya, persepsi publik terhadap seorang tokoh dapat berpindah dan melekat pada partai politik yang memiliki kedekatan dengan figur tersebut.
"Terhadap PSI terjadi perpindahan persepsi dari figur kepada partai," katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








