LG Hengkang dari Proyek Baterai RI Senilai Rp130 Triliun, Pemerintah Perlu Lakukan Ini
Camelia Rosa | 22 April 2025, 16:13 WIB

AKURAT.CO Pembatalan kerja sama Proyek Titan kerjasama BUMN dengan konsorsium LG Energy Solution Ltd (LGES), Korea Selatan, harus menjadi perhatian serius Pemerintah.
Pembina Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI), Mulyanto sarankan pemerintah harus lakukan evaluasi secara objektif untuk mengetahui alasan pembatalan kerjasama proyek senilai Rp130 triliun tersebut.
Ia juga mengusulkan Pemerintah perlu mengembangkan keragaman mitra strategis terkait pengembangan ekosistem kendaraan listrik (EV) nasional. Jangan hanya bergantung pada sumber teknologi satu negara.
Menurutnya diversifikasi kerja sama dengan berbagai negara sangat penting untuk menjaga keseimbangan geopolitik serta mendapatkan sumber teknologi dan pasar yang semakin luas.
"Meski BUMN kita masih memiliki konsorsium kerjasama pengembangan ekosistem EV dengan perusahaan CATL China melalui proyek Dragon sebesar Rp. 240 triliun, namun batalnya proyek Titan ini memiliki pengaruh signifikan, yang dapat memperlambat program pengembangan ekosistem EV dan hilirisasi sumber daya mineral nasional," jelas Mulyanto dalam keterangannya, Selasa (22/4/2025).
Karena itu menurut Mulyanto Pemerintah harus memitigasi dampaknya secara sungguh-sungguh serta mengembangkan alternatif kemitraan dan strategi lain.
"Pelajaran yang dapat dipetik dari kasus kebijakan tarif Presiden AS Trump adalah soal diversifikasi pasar dan kerjasama kemitraan secara beragam dengan berbagai negara. Ketergantungan atau dominasi sumber teknologi atau pasar pada satu atau beberapa negara akan menjadi sangat rawan bagi pembangunan ekonomi nasional," terangnya.
Untuk diketahui, PT Indonesia Battery Corporation (IBC) pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, 17 Februari 2025 lalu, memaparkan bahwa perusahaan Korea Selatan, LGES, mundur dari pembentukan joint venture (JV) Proyek Titan, yakni megaproyek baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) senilai USD7,7 miliar (sekitar Rp129,84 triliun asumsi kurs saat ini) di Indonesia.
Mundurnya LGES dari proyek yang dikenal dengan kode 'Proyek Titan' itu diumumkan perusahaan asal Korea Selatan tersebut pada Jumat (18/4/2025).
Namun di sisi lain, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) bersama mitra strategisnya terus menindaklanjuti proyek ekosistem baterai EV lainnya, Proyek Dragon, senilai total USD 16 miliar atau sekitar Rp 240 triliun.
Direktur Utama Antam Nico D. Kanter menjelaskan, proyek Dragon merupakan proyek strategis sekaligus program prioritas perseroan.
Proyek Dragon dikerjakan Antam dengan menggandeng Contemporary Brunp Lygend (CBL), konsorsium raksasa produsen baterai asal Tiongkok Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL).
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumebr daya Mineral buka suara mengenai hengkangnya LG Energy Solution (LG) dari proyek baterai kendaraan listrik (EV) terintegrasi sneilai USD7,7 miliar. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) justru mempertanyakan keseriusan LG dalam proyek Titan ini.
"Dia (LG) sebetulnya niat engga sih mau investasi di sini? Bukan, kalau misalnya dia engga niat ya sudah. Ya memang dari awal engga ada niat berarti," tegas Tri ketika ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (21/4/2025).
Apalagi menurutnya, sejak awal LG tidak tepat waktu menyelesaikan target yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia. Sehingga kemudian, proyek pun tidak ada perkembangan hingga bertahun-tahun.
"Kan selalu enggak tepat waktu mereka, sudah berapa tahun. Kamu mau bangun rumah, terus abis itu kamu harusnya udah groundbreaking, enggak juga. Kan yaudah, berarti dari kamu memang enggak (niat)," tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










