Jakarta Institute: Warga Harus Beralih ke PAM Jaya, Tinggalkan Air Tanah

AKURAT.CO, Direktur Jakarta Institute, Agung Nugroho, menegaskan pentingnya masyarakat Jakarta segera beralih menggunakan air perpipaan PAM Jaya dan meninggalkan ketergantungan pada air tanah maupun air isi ulang.
Menurutnya, dari sisi ekonomi, kesehatan, hingga lingkungan, pilihan paling rasional adalah menggunakan layanan PAM Jaya.
“Banyak warga mengira pakai sumur pompa lebih hemat. Padahal biaya listrik pompa bisa mencapai Rp150 ribu–Rp200 ribu per bulan, belum lagi biaya pengeboran sumur yang jutaan rupiah dan filter tambahan karena kualitas air tanah makin buruk,” ujar Agung dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (20/9/2025).
Baca Juga: Jakarta Hadapi Krisis Air, Transformasi PAM Jaya Tak Bisa Ditunda
Ia menegaskan tarif PAM Jaya jauh lebih murah. Per Januari 2025, harga air hanya sekitar Rp1.000 per meter kubik (m³) untuk golongan sosial dan rumah tangga sederhana dengan Kartu Air Sehat. “Kalau dihitung per liter, hanya Rp0,001. Bahkan untuk rumah tangga menengah yang tarifnya Rp6.825 per m³, tetap tidak sampai Rp0,007 per liter. Jadi jelas lebih murah dibanding listrik pompa atau beli air isi ulang,” kata Agung.
Jakarta Institute mencatat, biaya air isi ulang berkisar Rp18 ribu–Rp25 ribu per galon 19 liter. Dengan konsumsi 15 galon sebulan, pengeluaran bisa mencapai Rp270 ribu–Rp375 ribu. Jika menggunakan air kemasan bermerek, biaya bisa melampaui Rp600 ribu per bulan.
Dari sisi kesehatan, Agung menilai air tanah Jakarta tidak lagi layak konsumsi karena banyak tercemar limbah, bakteri, dan intrusi air laut. Begitu pula depot air isi ulang yang kerap tidak memenuhi standar sanitasi.
Baca Juga: Sambungan Baru Air Perpipaan Gratis Banjiri Jakarta, Warga Berebut Daftar Berlangganan PAM Jaya
“Air PAM Jaya sudah diproses sesuai standar WHO dan diawasi rutin. Bahkan sebenarnya bisa diminum langsung dari jaringan utama, hanya saja kualitas sering menurun di tingkat rumah tangga karena pipa sambungan warga banyak yang belum standar. Ini bisa diatasi dengan perbaikan pipa atau filter sederhana,” jelasnya.
Selain itu, Agung menekankan dampak lingkungan akibat penyedotan air tanah yang berlebihan. Penurunan muka tanah, rob, dan kerusakan ekologis kian parah akibat penggunaan air tanah.
“Jadi, sudah saatnya warga Jakarta rasional. Tinggalkan air tanah dan air isi ulang, beralihlah ke PAM Jaya. Lebih murah, lebih sehat, dan lebih berkelanjutan bagi kota ini,” tegas Agung.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








