Akurat
Pemprov Sumsel

Jadi Pilar Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III-2025, Kontribusi Sektor Pertanian Tembus 14,35 Persen

Hefriday | 6 November 2025, 12:59 WIB
Jadi Pilar Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III-2025, Kontribusi Sektor Pertanian Tembus 14,35 Persen

AKURAT.CO Sektor pertanian kembali menunjukkan perannya sebagai penopang utama ekonomi nasional. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, pada kuartal III tahun 2025, pertanian mencatat kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 14,35%. 

Angka ini menempatkan pertanian sebagai sektor dengan kontribusi terbesar kedua setelah industri pengolahan, sekaligus menjadi bukti bahwa pertanian kini bukan hanya urusan pangan, tetapi juga pilar penting penggerak ekonomi rakyat.

“Pertanian tidak boleh hanya berhenti pada menanam dan panen. Kita harus memberi nilai tambah, mendorong hilirisasi dan ekspor agar petani dapat menikmati hasil yang lebih besar,” ujar Amran dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (6/11/2025).

Menurut Amran, capaian tersebut mencerminkan perubahan paradigma dalam pembangunan pertanian nasional.
 
Kini, sektor pertanian tidak hanya berfokus pada ketahanan pangan, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan nilai ekonomi baru melalui diversifikasi produk, hilirisasi komoditas unggulan, serta penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir. Dengan demikian, pertanian menjadi bagian integral dari strategi pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan.
 
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal III-2025 Tembus 5,04 Persen

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 5 November 2025, nilai PDB sektor pertanian pada kuarta; III mencapai Rp869,4 triliun (harga berlaku), naik dari Rp822,6 triliun pada triwulan sebelumnya. 
 
Secara riil, sektor ini tumbuh 3,32% secara kuartalan (q-to-q) dan 4,93% secara tahunan (y-on-y). Pertumbuhan kumulatifnya pun mencapai 5,37% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Lonjakan ini memperlihatkan ketahanan sektor pertanian di tengah tekanan ekonomi global dan perubahan iklim. Kinerja positif tersebut juga menandakan efektivitas kebijakan pemerintah yang berfokus pada peningkatan produktivitas, efisiensi, serta pemanfaatan teknologi dalam kegiatan budidaya.

Pemerintah diketahui tengah gencar menjalankan berbagai program modernisasi pertanian. Mulai dari penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), perbaikan jaringan irigasi, hingga pengembangan kawasan pangan berkelanjutan. 
 
Upaya tersebut tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga memperpendek rantai distribusi hasil panen dan memperkuat daya saing produk pertanian nasional di pasar global.

“Modernisasi menjadi kunci agar pertanian kita tidak lagi identik dengan kemiskinan dan keterbelakangan. Kita ingin menjadikan petani sebagai pelaku ekonomi yang kuat dan sejahtera,” tegas Amran.

Dari sisi spasial, kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi nasional juga didorong oleh kinerja positif di sejumlah wilayah sentra pangan. Pulau Sulawesi mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi sebesar 5,84%, diikuti Jawa 5,17%, dan Sumatera 4,90%. Ketiganya menjadi kontributor utama terhadap stabilitas ekonomi nasional, terutama melalui komoditas unggulan seperti padi, jagung, kelapa sawit, dan kopi.

Selain itu, sektor perdagangan luar negeri juga menunjukkan geliat positif. Ekspor barang dan jasa meningkat 9,91% (y-on-y), mencerminkan peningkatan daya saing komoditas ekspor pertanian Indonesia. 
 
Produk seperti kelapa sawit, kopi, rempah, serta hasil hortikultura menjadi andalan baru yang berkontribusi pada surplus neraca perdagangan nasional. Kinerja ekspor ini turut memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen dan eksportir produk pertanian terbesar di dunia.

Amran menambahkan, tren positif tersebut tidak lepas dari kebijakan hilirisasi yang tengah digalakkan. Pemerintah mendorong tumbuhnya industri pengolahan berbasis hasil pertanian di berbagai daerah, sehingga menciptakan lapangan kerja baru dan memperluas pasar produk lokal. 
 
“Nilai tambah tidak boleh dinikmati di luar negeri. Kita ingin pengolahan bahan mentah dilakukan di dalam negeri agar ekonomi daerah juga ikut tumbuh,” ujarnya.

Selain fokus pada produktivitas dan ekspor, pemerintah juga menaruh perhatian pada aspek ketahanan pangan. Melalui penguatan cadangan beras pemerintah, diversifikasi pangan lokal, serta pengembangan sistem logistik pertanian, Indonesia diharapkan mampu menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pangan pokok di tengah gejolak global.

Kementerian Pertanian menargetkan pertumbuhan sektor ini dapat mencapai 6% secara tahunan, dengan peningkatan investasi di subsektor hortikultura, perkebunan, dan peternakan. 
 
Upaya kolaboratif dengan sektor swasta, BUMN, serta lembaga riset juga akan diperkuat untuk mempercepat adopsi teknologi pertanian presisi dan sistem berbasis Internet of Things (IoT).
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa