Kebutuhan Tinggi, Produksi Minim: Gakoptindo Tekankan Segmentasi Kedelai Lokal–Impor

AKURAT.CO Pertumbuhan industri tempe dan tahu di Indonesia terus menunjukkan tren positif.
Namun, di tengah peningkatan permintaan tersebut, tantangan utama yang harus dihadapi adalah menjaga kualitas produksi, efisiensi biaya, serta keberlanjutan pasokan bahan baku kedelai yang hingga kini masih bergantung pada impor.
Sekretaris Jenderal Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Wibowo Nurcahyo, menegaskan, kebutuhan kedelai nasional saat ini mencapai sekitar 2,9 juta ton per tahun.
Sementara itu, serapan kedelai lokal masih sangat terbatas, tidak sampai 100 ribu ton.
“Dengan kondisi produksi seperti sekarang, menutup keran impor bukan pilihan yang realistis. Impor masih dibutuhkan untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga,” kata Wibowo kepada wartawan di Jakarta.
Menurutnya, ketergantungan terhadap kedelai impor perlu dikelola dengan strategi yang tepat agar tidak mengganggu upaya swasembada pangan.
Salah satu langkah yang didorong Gakoptindo adalah penerapan segmentasi pasar antara kedelai lokal dan kedelai impor.
Wibowo menjelaskan, kedelai lokal yang bersifat non-GMO lebih tepat difokuskan untuk segmen khusus, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan produk pangan bernilai tambah tinggi, termasuk susu kedelai.
Sementara itu, kedelai impor diarahkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat umum agar harga tempe dan tahu tetap terjangkau.
“Segmentasinya harus jelas. Kedelai lokal untuk MBG dan produk tertentu, sedangkan kedelai impor untuk pasar umum. Kalau dicampur, bisa saling mengganggu dan memicu kenaikan harga,” ujarnya.
Baca Juga: Komisi IX DPR: 20 Hari Terlalu Lama untuk Pulihkan Rumah Sakit Pascabencana Sumatera
Ia mengingatkan, tanpa pengaturan yang jelas, peningkatan kebutuhan kedelai seiring berjalannya program MBG hingga 2045 berpotensi menimbulkan kelangkaan bahan baku dan mendorong inflasi.
Saat ini, di beberapa daerah sudah mulai terjadi kenaikan harga tahu dan tempe akibat tekanan pasokan.
Di sisi lain, Gakoptindo juga menyiapkan berbagai langkah penguatan industri, mulai dari modernisasi pabrik tempe dan tahu yang lebih higienis dan hemat energi, hingga penciptaan wirausaha baru produk turunan kedelai.
Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produksi tanpa membebani konsumen dengan kenaikan harga.
Wibowo menegaskan, tempe dan tahu merupakan sumber protein utama masyarakat Indonesia, dengan konsumsi rata-rata tempe mencapai 1,5 kilogram per rumah tangga per bulan dan tahu sekitar 1,7 hingga 1,8 kilogram.
“Intinya, impor masih dibutuhkan, kedelai lokal tetap harus kita dorong. Dengan segmentasi yang tepat, pasokan terjaga, harga stabil, inflasi bisa ditekan, dan ketahanan pangan nasional tetap aman,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 7Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









