Ketergantungan Impor Garam Dinilai Bukti Lemahnya Keberpihakan pada Petani Lokal

AKURAT.CO Ketergantungan Indonesia terhadap impor garam dari Australia dinilai sebagai cermin lemahnya keberpihakan negara terhadap petani garam dalam negeri.
Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, menegaskan, murahnya harga garam Australia bukan karena kualitas petani Indonesia lebih rendah, melainkan karena negara belum mampu menghadirkan sistem produksi yang modern dan berkeadilan.
“Australia bisa menjual garam lebih murah karena teknologi mereka jauh lebih maju, skala produksinya besar, dan infrastrukturnya kuat. Di Indonesia, petani dibiarkan berjuang sendiri dengan alat tradisional dan ketergantungan pada cuaca,” ujar Firman, Senin (16/2/2026).
Menurutnya, di Australia produksi garam telah dikelola secara industri melalui sistem penguapan air laut di kolam-kolam besar dengan manajemen modern dan dukungan infrastruktur yang memadai.
Air laut dipompa ke tambak skala besar, diuapkan, dikristalkan, lalu dipanen secara efisien.
Sebaliknya, mayoritas petani garam di Indonesia masih menggunakan metode konvensional yang sangat bergantung pada kondisi cuaca. Mereka juga minim dukungan teknologi pemurnian, fasilitas penyimpanan, serta kepastian harga.
Firman menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk ketidakadilan struktural.
“Petani kita diminta bersaing dengan produk industri asing, tetapi negara tidak pernah memberikan dukungan yang setara. Ini bukan soal kemampuan petani, ini soal keberpihakan negara,” tegasnya.
Baca Juga: Kunjungan Prabowo ke AS Dinilai Strategis Perkuat Diplomasi Indonesia
Ia juga menyoroti alasan kualitas garam lokal yang kerap dijadikan pembenaran untuk membuka keran impor.
Menurutnya, persoalan kualitas bukan sepenuhnya kesalahan petani, melainkan akibat minimnya investasi negara pada teknologi pascapanen dan standardisasi industri.
“Kalau pemerintah serius, kualitas bisa ditingkatkan. Yang tidak serius itu kebijakannya. Lebih mudah impor daripada membangun industri garam nasional,” ujarnya.
Firman memperingatkan bahwa ketergantungan terhadap garam impor bukan hanya berdampak pada kesejahteraan petani, tetapi juga berpotensi mengancam kedaulatan pangan nasional.
Komisi IV DPR RI, lanjutnya, akan terus mendorong pemerintah agar menghentikan kebijakan impor yang merugikan petani serta segera membangun ekosistem industri garam nasional yang modern, mandiri, dan berdaulat.
“Kalau garam saja kita masih bergantung pada negara lain, ini bahaya. Garam adalah kebutuhan strategis. Negara tidak boleh menyerah pada mekanisme pasar dan membiarkan petani dikorbankan,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








