Akurat
Pemprov Sumsel

Antisipasi Dampak Penutupan Selat Hormuz, RI Akan Impor Minyak dari Afrika hingga Brazil

Lukman Nur Hakim Akurat.co | 3 Maret 2026, 19:15 WIB
Antisipasi Dampak Penutupan Selat Hormuz, RI Akan Impor Minyak dari Afrika hingga Brazil
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia

AKURAT.CO Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyiapkan langkah mitigasi terhadap dampak penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur vital energi dunia dengan volume pasokan mencapai sekitar 20,1 juta barel per hari (bph). Jalur tersebut juga menjadi rute pengiriman sebagian impor minyak mentah (crude) Indonesia dari kawasan Timur Tengah.

Namun demikian, Bahlil menegaskan ketergantungan Indonesia terhadap jalur tersebut relatif terbatas. Sebab, Indonesia mengimpor sekitar 25% minyak mentah dari Timur Tengah yang praktis pengirimannya harus melalui Selat Hormuz. 

Baca Juga: Ketegangan AS-Iran Dongkrak Harga Minyak, Bahlil Pastikan Harga BBM RI Tak Naik

“Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brazil. Jadi secara keseluruhan impor kita untuk crude, 20 sampai 25% dari Selat Hormuz, selebihnya tidak dari sana,” kata Bahlil di Kementerian ESDM, Selasa (3/3/2026).

Menghadapi ketidakpastian geopolitik global, pemerintah memilih skenario terburuk sebagai langkah antisipasi. Bahlil mengakui, berdasarkan kajian dan komunikasi dengan berbagai negara, sulit memprediksi kapan ketegangan di kawasan tersebut akan mereda.

Sebagai langkah strategis, pemerintah memutuskan untuk mengalihkan sebagian impor crude dari Timur Tengah ke Amerika Serikat guna memastikan kepastian pasokan dalam negeri.

“Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude yang kita ambil dari Middle East, sebagian kita alihkan untuk ambil di Amerika. Supaya apa? Ada kepastian ketersediaan crude kita,” tuturnya.

Sementara itu, Bahlil menambahkan untuk impor bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin seperti RON 90, 92, 95, dan 98, pemerintah memastikan pasokan relatif aman karena tidak bergantung pada kawasan Timur Tengah. 

“Tapi kita lakukan dari negara-negara di luar Middle East, termasuk di dalamnya adalah Asia Tenggara. Jadi ini relatif enggak ada masalah,” tambah Bahlil.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.