Akurat
Pemprov Sumsel

Mendag Sebut Perang AS-Iran Rombak Peta Perdagangan Global, Peluang RI Untuk Isi Kekosongan Pasar

Esha Tri Wahyuni | 5 Maret 2026, 22:03 WIB
Mendag Sebut Perang AS-Iran Rombak Peta Perdagangan Global, Peluang RI Untuk Isi Kekosongan Pasar
Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso

AKURAT.CO Krisis geopolitik global yang mengganggu rantai pasok internasional justru dinilai dapat menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk memperluas ekspor. 

Menteri Perdagangan, Budi Santoso mengatakan, pemerintah tengah memetakan peluang ekspor baru ketika gangguan global supply chain menyebabkan sejumlah pasar dunia mengalami kekosongan pasokan barang.

Situasi konflik di kawasan Timur Tengah dan dinamika geopolitik global dinilai berpotensi mengubah peta perdagangan internasional. Dalam kondisi tersebut, Indonesia memiliki kesempatan untuk mengisi pasar yang ditinggalkan oleh negara pemasok yang terdampak konflik.

Baca Juga: Perang AS-Iran Bisa Dimenangkan Iran, Profesor Jiang Xueqin Peneliti Harvard Jelaskan Alasannya Lengkap

Menurut Budi, pemerintah berupaya memastikan agar pelaku usaha nasional tetap dapat memanfaatkan momentum tersebut melalui perluasan pasar ekspor dan penguatan kerja sama dagang dengan negara-negara yang relatif stabil secara geopolitik.

Budi menjelaskan bahwa krisis geopolitik biasanya berdampak langsung pada terganggunya rantai pasok global. Ketika pemasok utama suatu komoditas mengalami hambatan produksi atau distribusi, pasar internasional akan mengalami kekosongan pasokan.

“Kalau krisis geopolitik itu biasanya akan mengubah peta perdagangan. Ketika global supply chain terganggu akan ada pasar yang kosong karena pemasoknya terhambat,” ujar Budi di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut membuka peluang bagi negara lain untuk masuk dan mengisi permintaan pasar yang belum terpenuhi. Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk memanfaatkan momentum tersebut, terutama bagi sektor manufaktur dan produk UMKM yang memiliki daya saing ekspor.

Pemerintah Petakan Negara Tujuan Ekspor Alternatif

Kementerian Perdagangan saat ini tengah memetakan sejumlah negara yang relatif tidak terdampak konflik geopolitik untuk dijadikan target ekspor baru bagi produk Indonesia.

Langkah ini dilakukan agar eksportir nasional tetap dapat memperluas pasar meskipun perdagangan global menghadapi ketidakpastian akibat konflik internasional. “Kita harus mencari pasar lain ketika pasar tertentu terganggu,” kata Budi.

Busan menambahkan bahwa kawasan Asia Tenggara dan Afrika menjadi dua wilayah yang berpotensi menjadi pasar alternatif. Kedua kawasan tersebut dinilai masih memiliki permintaan impor yang stabil serta tidak terdampak langsung oleh eskalasi konflik global.

Selain memetakan pasar baru, pemerintah juga berencana menggelar pertemuan dengan para eksportir untuk mengidentifikasi berbagai kendala teknis yang dihadapi pelaku usaha dalam kegiatan ekspor.

“Kami akan bertemu para eksportir untuk mengetahui secara teknis kira-kira masalahnya di mana,” ujar Budi.

Budi menegaskan, koordinasi dengan pelaku usaha menjadi penting agar pemerintah dapat merumuskan kebijakan yang lebih tepat dalam menjaga kinerja ekspor nasional di tengah situasi global yang tidak menentu.

Potensi Dampak Geopolitik Terhadap Ekspor Masih Dikaji

Meski konflik geopolitik berpotensi mempengaruhi perdagangan global, pemerintah belum dapat menghitung secara pasti dampaknya terhadap kinerja ekspor Indonesia.

Menurut Budi, perhitungan tersebut masih membutuhkan masukan dari pelaku usaha serta evaluasi terhadap perkembangan kondisi perdagangan internasional.

“Perhitungan yang lebih akurat masih memerlukan masukan dari para pelaku usaha serta evaluasi kondisi perdagangan global,” ujarnya.

Namun demikian, pemerintah memastikan akan terus memantau perkembangan situasi global guna memastikan aktivitas ekspor Indonesia tetap berjalan.

Program UMKM BISA Ekspor Perluas Akses Pasar Global

Untuk memperkuat penetrasi pasar ekspor, Kementerian Perdagangan juga memanfaatkan program business matching guna mempertemukan eksportir Indonesia dengan calon pembeli dari berbagai negara.

Program ini menjadi bagian dari inisiatif UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor) yang ditujukan untuk mempercepat ekspansi pelaku usaha nasional ke pasar internasional.

Sepanjang 2025, program tersebut tercatat telah memfasilitasi 1.217 pelaku usaha dengan nilai transaksi mencapai 134,87 juta dolar AS atau sekitar Rp2,27 triliun.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa strategi mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli internasional dapat menjadi instrumen penting dalam mendorong peningkatan ekspor nasional.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.