Seteru Garuda Indonesia-Pelita Air dalam Holding BUMN Penerbangan

AKURAT.CO Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menargetkan terbentuknya holding BUMN penerbangan pada kuartal I-2026 alias bulan Maret ini.
Dalam prosesnya, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) dan Pelita Air, entitas anak PT Pertamina (Persero) akan dilebur atau merger. Ada juga Citilink, entitas anak GIAA yang akan terlibat dalam holding tersebut. Hal tersebut disampaikan oleh COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria belum lama ini.
"(Merger) Garuda Indonesia (dengan Pelita Air) di Kuartal I-2026," ujarnya di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Baca Juga: Sinergi BUMN, PGN dan Garuda Indonesia Dukung Pemulihan Warga Terdampak Bencana di Sumatera
Ide holding BUMN penerbangan sendiri bukan barang baru. Konsep ini pertama kali digagas pada tahun 1998 oleh Menteri BUMN pertama, Tanri Abeng, sebagai bagian dari rencana restrukturisasi dan konsolidasi berbagai perusahaan pelat merah untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing.
Terbaru, lewat InJourney yang merupakan holding BUMN Pariwisata dan Aviasi sempat berencana mengeksekusi ide ini.
Masalahnya, publik masih menyangsikan penggabungan kedua maskapai pelat merah tersebut, karena secara bisnis, kinerja Garuda Indonesia masih merah atau merugi sementara Pelita Air sudah mencetak laba.
Sebagai konteks, per akhir 2024 lalu, Garuda Indonesia membukukan rugi USD69,78 juta atau Rp1,16 triliun. Sementara Pelita Air membukukan laba bersih USD5,9 juta atau setara Rp98,25 miliar.
Kekhawatiran ini bahkan disuarakan oleh wakil rakyat di Senayan. Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam yang menolak rencana merger tersebut merasa dari sisi pelayanan dan operational excellence, Garuda Indonesia jauh panggang dari api. Kontrasa dengan Pelita Air yang layanannya tepat waktu, bersih, makanan memuaskan dan sebagainya.
"Saya tidak mau kemudian Garuda membajak Pelita Air yang sudah bagus jadi maskapai kebanggaan kita, kemudian akhirnya rusak gara-gara kena virus budaya kerja di Garuda Indonesia yang amburadul," tutur Mufti.
Tantangan Merger BUMN Penerbangan
Managing Director Lembaga Manajemen FEB UI, Toto Pranoto menilai pemilihan mekanisme merger & akusisi krusial agar aksi korporasi ini tidak mengganggu upaya penyehatan keuangan dan bisnis Garuda Indonesia.
Menurutnya, mekanisme biasa dengan akuisisi oleh GIAA secara finansial akan sulit. Lebih mudah dan sederhana jika mekanisme inbreng dilakukan Danantara dengan menempatkan Pelita Air di bawah GIAA.
Penting juga bagi Garuda Indonesia untuk memiliki strategi konkret penyehatan keuangan agar keluar dari krisis. Opsinya bisa lewat melalui divestasi mayoritas saham ke pihak swasta untuk mendorong efisiensi dan inovasi.
Pilihan lain Pelita Air ditempatkan di bawah Danantara agar setara dengan Garuda Indonesia. Dengan demikian, kedua maskapai bisa tetap independen, menjaga kompetisi, dan beroperasi tanpa membebani satu sama lain.
Tantangan lain, adalah internalisasi nilai-nilai budaya kerja di level karyawan. Butuh waktu yang panjang untuk menyamaratakan visi misi perusahaan yang terbentuk dari proses merger ataupun holding, agar satu sama lain tak merasa paling superior.
Contoh klasik dari ini adalah eks karyawan Bank Mandiri Syariah, BNI Syariah dan BRI Syariah yang kini tergabung dalam indentitas baru Bank Syariah Indonesia atau BSI.
Berbeda, Pengamat Penerbangan Alvin Lie justru menolak holdingisasi maskapai-maskapai ini demi mempertahankan brand, karakter dan segmentasi pasar masing-masing.
Menurutnya ketimbang menjadi holding atau merger, strategi berbasis aliansi seperti OneWorld, SkyTeam, dan Star Alliance lebih menguntungkan karena mampu menawarkan sinergi layanan tanpa harus menghilangkan identitas setiap maskapai.
Aliansi memberikan potensi pelayanan yang lebih baik, seperti koneksi penerbangan yang mulus (seamless connection), kemudahan connecting flight, hingga kolaborasi dalam pemasaran.
Dampak Positif Merger BUMN Penerbangan Versi Danantara
Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas, mengatakan holdingisasi membawa beberapa manfaat.
Pertama, efisiensi dan optimalisasi sistem pemesanan dari ketiga perusahaan. Artinya akan ada satu booking, satu Garuda point, mileage, registration, dan bahkan seat bisa saling tukar sehingga secara umum ketiga perusahaan bisa lebih efisien.
Manfaat lain, penguatan jumlah armada atau pesawat. Dengan bergabungnya ketiga maskapai, maka masalah keterbatasan armada yang dialami masing-masing perusahaan bisa teratasi, apalagi jika memiliki rute penerbangan yang sama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










