IPB Dorong Pemanfaatan Limbah Kelapa Sawit Jadi Produk Bernilai Tinggi

AKURAT.CO IPB University mendorong pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai sumber produk bernilai tambah, seiring dengan ketersediaannya yang melimpah di Indonesia.
Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB, Yanto Santosa, mengatakan limbah kelapa sawit dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi sekaligus ramah lingkungan melalui penerapan teknologi yang tepat.
“Limbah kelapa sawit memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah ekonomi,” ujarnya di Jakarta, Minggu (22/3/2026).
Menurutnya, optimalisasi limbah kelapa sawit tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga membuka peluang usaha baru, mendukung konsep Ekonomi Sirkular, serta menghasilkan energi terbarukan.
Ia menambahkan, kelapa sawit merupakan komoditas strategis nasional yang menerapkan konsep zero waste, di mana hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai tambah.
“Pemanfaatan limbah sawit memberikan banyak manfaat penting,” tegasnya.
Yanto juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam mendorong penerapan konsep zero waste di sektor sawit, agar seluruh hasil produksi dapat dimanfaatkan tanpa mencemari lingkungan.
Ia menilai kolaborasi antara Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan lembaga riset perlu diperkuat guna mendorong inovasi pengolahan limbah.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute, Tungkot Sipayung, menilai istilah “limbah” pada industri kelapa sawit perlu diluruskan.
Baca Juga: Sambut Idulfitri, Tugu Insurance Salurkan Bantuan dan Galang Donasi untuk Masyarakat
Ia menyebut bahwa selain produk utama seperti CPO dan CPKO, terdapat banyak produk sampingan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Yang tepat adalah produk utama dan produk sampingan yang sering disebut sebagai limbah. Padahal, semua bagian memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.
Namun, ia mengungkapkan bahwa hingga kini banyak produk sampingan tersebut masih dikategorikan sebagai limbah dalam regulasi lingkungan, bahkan sebagian masuk kategori limbah B3.
Hal ini dinilai menjadi hambatan dalam proses komersialisasi karena memerlukan izin dan perlakuan khusus.
“Padahal semuanya berasal dari bahan organik,” katanya.
Ia meyakini, jika regulasi tersebut disesuaikan, industri pengolahan produk sampingan kelapa sawit akan berkembang pesat dan menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.
Dampaknya tidak hanya pada peningkatan devisa, tetapi juga pembukaan lapangan kerja.
Selain itu, pemanfaatan optimal limbah sawit juga dinilai dapat menurunkan jejak karbon (carbon footprint), sehingga industri kelapa sawit semakin berkontribusi pada pengembangan produk ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








