Akurat
Pemprov Sumsel

Gandeng BRIN, Bulog siap Perkuat Stok Beras lewat Teknologi Pencegah Kutu

Esha Tri Wahyuni | 29 Maret 2026, 20:10 WIB
Gandeng BRIN, Bulog siap Perkuat Stok Beras lewat Teknologi Pencegah Kutu
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani

AKURAT.CO Perum Bulog resmi memperkuat kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam pengelolaan cadangan beras pemerintah (CBP) guna menjaga kualitas stok dan mencegah serangan hama seperti kutu.

Kolaborasi ini menjadi bagian dari strategi modernisasi logistik pangan nasional berbasis teknologi.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan, penguatan sinergi ini dilakukan melalui penandatanganan adendum Nota Kesepahaman bersama Kepala BRIN Arif Satria pada Jumat (27/3/2026) di Jakarta.

Langkah ini merupakan kelanjutan kerja sama yang telah berjalan sejak 2024.

Baca Juga: Bulog Bantah Dirut Rangkap Jabatan sebagai Kabais TNI

“Melalui sinergi dengan BRIN, Bulog tidak hanya memperkuat peran dalam menjaga ketersediaan dan stabilitas pangan, tetapi juga mendorong pemanfaatan inovasi teknologi untuk meningkatkan kualitas pengelolaan logistik pangan secara menyeluruh,” kata Rizal, Minggu (29/3/2026).

Secara data, pemerintah melalui Bulog mengelola Cadangan Beras Pemerintah yang pada 2025 ditargetkan berada di kisaran 1,5 juta hingga 2 juta ton sebagai buffer stok nasional.

CBP berfungsi menjaga stabilitas harga dan pasokan, terutama saat terjadi gangguan produksi atau lonjakan permintaan.

Dengan volume sebesar itu, risiko penurunan kualitas akibat hama gudang seperti kutu menjadi salah satu tantangan utama dalam manajemen stok.

Rizal menjelaskan, adendum kerja sama memperluas cakupan kolaborasi ke sejumlah sektor strategis, mulai dari pengembangan smart farming, modernisasi pergudangan, hingga optimalisasi infrastruktur pengolahan pangan.

Selain itu, kerja sama juga mencakup diversifikasi pangan dan penguatan jaringan distribusi nasional.

Baca Juga: Bulog Salurkan Bansos ke Kepulauan, Sekitar 33,2 Juta PBP Disasar

“Kerja sama juga diperkuat dengan penambahan fokus pada pemanfaatan teknologi pengawetan makanan serta riset dan inovasi teknologi radiasi untuk pengawetan pangan, sebagai langkah konkret dalam meningkatkan kualitas, daya simpan, dan efisiensi distribusi pangan nasional,” ujarnya.

Teknologi radiasi pangan sendiri telah lama digunakan secara global dan diakui oleh badan internasional seperti FAO dan WHO sebagai metode aman untuk memperpanjang masa simpan serta membunuh organisme pengganggu tanpa merusak kualitas gizi. Implementasi teknologi ini dinilai relevan untuk Indonesia yang memiliki tantangan distribusi pangan antarwilayah.

Sementara itu, Kepala BRIN Arif Satria menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari upaya hilirisasi riset agar hasil penelitian dapat langsung dimanfaatkan oleh sektor strategis seperti pangan.

“Kolaborasi antara BRIN dan Perum Bulog merupakan langkah konkret untuk memastikan hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat diimplementasikan secara nyata dalam mendukung sistem pangan nasional yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan,” kata Arif.

Secara historis, peran Bulog dalam menjaga stabilitas pangan telah berlangsung sejak era 1967, dengan mandat utama mengendalikan harga dan distribusi beras. Namun, tantangan saat ini semakin kompleks seiring perubahan iklim, gangguan rantai pasok global, serta peningkatan konsumsi domestik yang menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai lebih dari 30 juta ton beras per tahun.

Penguatan berbasis teknologi dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi losses dalam rantai distribusi. Kementerian Pertanian sebelumnya juga mencatat potensi kehilangan pascapanen (post-harvest losses) di Indonesia masih berada di kisaran 10–12%, termasuk akibat penyimpanan yang tidak optimal.

Bagi publik, kerja sama ini berpotensi berdampak pada stabilitas harga beras dan kualitas produk yang diterima konsumen. Dengan sistem penyimpanan yang lebih modern dan berbasis riset, risiko beras rusak atau terkontaminasi dapat ditekan, sehingga distribusi ke pasar menjadi lebih efisien.

Dari sisi pasar, penguatan logistik pangan juga berpengaruh terhadap inflasi. Bank Indonesia mencatat komoditas beras menjadi salah satu penyumbang utama inflasi pangan bergejolak (volatile food). Perbaikan manajemen stok CBP dapat membantu meredam tekanan inflasi, terutama pada periode rawan seperti musim paceklik atau gangguan produksi.

Bulog menyatakan akan terus memperluas kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ketahanan pangan nasional yang adaptif terhadap perubahan. Implementasi teknologi hasil riset BRIN akan menjadi salah satu fokus utama dalam transformasi sistem logistik pangan nasional.

“Dengan penandatanganan adendum ini, Perum Bulog berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mendukung ketahanan pangan nasional yang adaptif, inovatif, dan berkelanjutan,” kata Rizal.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.