Akurat
Pemprov Sumsel

Hadapi El Nino Godzilla, Ini Strategi Mentan Jaga Ketahanan Pangan RI

Esha Tri Wahyuni | 30 Maret 2026, 21:22 WIB
Hadapi El Nino Godzilla, Ini Strategi Mentan Jaga Ketahanan Pangan RI
Mentan RI, Andi Amran Sulaiman

AKURAT.CO Pemerintah memastikan stok pangan nasional tetap aman meski menghadapi ancaman El Nino ekstrem atau yang disebut “Godzilla El Nino” mulai April hingga enam bulan ke depan. 

Berbagai langkah antisipatif telah disiapkan untuk menjaga produksi padi dan ketersediaan beras nasional. Dengan dukungan infrastruktur pertanian yang diperkuat sejak 2023, pemerintah optimistis ketahanan pangan Indonesia tetap terjaga.

Strategi Antisipasi El Nino: Belajar dari Krisis 2023

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, memastikan bahwa potensi El Nino ekstrem sudah diantisipasi lebih matang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia menyebut, pengalaman menghadapi El Nino pada 2023 menjadi titik balik penting dalam memperkuat strategi ketahanan pangan nasional.

“Ada potensi El Nino Godzilla mulai April selama kurang lebih enam bulan. Insya Allah sektor pangan tetap aman,” ujar Amran usai rapat hilirisasi pertanian bersama BUMN pangan di Jakarta, Senin (30/3/2026).

Pada 2023, pemerintah sempat memproyeksikan kebutuhan impor beras mencapai 10 juta ton. Namun, angka tersebut berhasil ditekan signifikan menjadi sekitar 3,7 juta ton melalui langkah cepat seperti pompanisasi, perbaikan irigasi, dan optimalisasi lahan.

Infrastruktur Pertanian Diperkuat, Produksi Padi Dijaga

Menghadapi potensi kekeringan akibat El Nino, pemerintah mempercepat pembangunan dan perbaikan infrastruktur pertanian. Salah satu program utama adalah pompanisasi dengan pemasangan puluhan ribu pompa di sentra produksi beras.

Langkah ini memungkinkan suplai air tetap terjaga meskipun curah hujan menurun drastis. Selain itu, sistem irigasi berbasis pompa kini telah berjalan lebih optimal untuk mengurangi ketergantungan terhadap faktor alam.

“Kementerian Pekerjaan Umum juga menargetkan perbaikan jaringan irigasi hingga 2 juta hektare. Tahun ini 1 juta hektare, tahun depan 1 juta hektare lagi. Persiapan dari sisi infrastruktur sangat baik,” jelas Amran.

Selain infrastruktur, pemerintah juga menggenjot program optimasi lahan (Opla), khususnya di lahan rawa. Program ini terbukti mampu meningkatkan intensitas tanam dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun.

Perbaikan jaringan irigasi yang berkelanjutan menjadi faktor kunci dalam meningkatkan produktivitas lahan. Dengan demikian, produksi padi tetap dapat dipertahankan bahkan dalam kondisi iklim ekstrem.

Stok Beras Tembus 27 Juta Ton, Cukup Hingga 10 Bulan

Dari sisi ketersediaan, pemerintah mencatat cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog saat ini mencapai sekitar 4,3 juta ton dan diproyeksikan segera menembus 5 juta ton.

Selain itu, stok beras di sektor rumah tangga, hotel, dan restoran diperkirakan mencapai 12,5 juta ton. Sementara itu, standing crop atau tanaman siap panen berada di kisaran 11 juta ton.

Jika digabungkan, total ketersediaan pangan nasional mencapai sekitar 27 juta ton. Jumlah tersebut diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan hingga 10 bulan ke depan, bahkan tanpa tambahan produksi baru.

“Kalau ditambah produksi selama periode El Nino sekitar 12 juta ton, maka stok pangan kita sangat mencukupi,” kata Amran.

Pemerintah tidak hanya mengandalkan stok yang ada, tetapi juga menargetkan tambahan produksi selama periode El Nino. Diperkirakan, produksi padi tetap bisa mencapai 12 juta ton dalam periode tersebut.

Langkah ini penting untuk menjaga stabilitas harga beras di pasar sekaligus menekan potensi impor. Dengan produksi domestik yang kuat, ketergantungan terhadap pasar global dapat diminimalkan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.