Akurat Logo

Kemenperin Catat Tren Positif Investasi Pembangunan Pabrik Baru, Tembus Rp418,6 Triliun di Kuartal I-2026

Lukman Nur Hakim Akurat.co | 26 April 2026, 14:31 WIB
Kemenperin Catat Tren Positif Investasi Pembangunan Pabrik Baru, Tembus Rp418,6 Triliun di Kuartal I-2026
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief

AKURAT.CO Kementerian Perindustrian lewat SIINas mencatat per kuartal I-2026 terdapat 633 perusahaan industri yang melaporkan pembangunan fasilitas produksi.

Total rencana penyerapan tenaga kerja dari pembangunan fasilitas tersebut mencapai 219.684 orang, dengan total nilai investasi sebesar Rp418,62 triliun.
 
Secara jumlah perusahaan, pembangunan fasilitas produksi paling banyak dilaporkan oleh subsektor Industri Pengolahan Tembakau sebanyak 72 perusahaan. Diikuti Industri Minuman sebanyak 67 perusahaan, serta Industri Makanan sebanyak 60 perusahaan.

Baca Juga: PMI BI Kuartal I-2026 Naik, Sinyak Resiliensi Industri Manufaktur di Tengah Tekanan Global

Selain itu, subsektor Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia juga cukup dominan dengan 49 perusahaan yang sedang membangun fasilitas baru.
 
Dari sisi nilai investasi, subsektor Industri Logam Dasar menjadi kontributor terbesar dengan investasi mencapai sekitar Rp218,04 triliun dari 24 perusahaan. Posisi berikutnya ditempati Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia sebesar Rp81,22 triliun, disusul Industri Barang Galian Bukan Logam sebesar Rp12,10 triliun.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief menyampaikan, industri manufaktur Indonesia terus memperlihatkan daya tahan tinggi serta kemampuan beradaptasi menghadapi tekanan global.
 
“Kinerja sektor manufaktur Indonesia menunjukkan hasil yang kuat. Kontribusinya terus meningkat, penyerapan tenaga kerja bertambah, investasi semakin tumbuh, dan tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional. Ini bukti bahwa struktur industri Indonesia semakin kokoh,” kata Febri dikutip dari laman Kemenperin, Minggu (24/6/2026).

Capaian Industri Manufaktur hingga 2025

Febri menjelaskan, pada tahun 2025 industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,30%, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11%

Capaian ini menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya dalam 14 tahun terakhir pertumbuhan industri pengolahan kembali melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
 
Selain itu, kontribusi sektor industri manufaktur (industri pengolahan) terhadap total PDB Indonesia menunjukkan tren meningkat dalam periode kuartal II-2022 sampai kuartal IV-2025.

Pada kuartal II-2022, kontribusi manufaktur tercatat sebesar 17,92% dari total PDB nasional. Setelah itu, porsi manufaktur secara umum terus menguat, meskipun mengalami fluktuasi musiman antartriwulan.
 
Memasuki tahun 2023, kontribusi manufaktur mulai bergerak naik dari 18,26% pada kuartal II-2023 menjadi 19,08% pada kuartal IV-2023. Kenaikan ini menunjukkan bahwa sektor manufaktur semakin berperan sebagai penggerak utama aktivitas ekonomi nasional.
 
Pada tahun 2024, tren penguatan berlanjut dengan kontribusi mencapai 19,13% pada kuartal IV-2024, lebih tinggi dibanding posisi akhir tahun sebelumnya. Bahkan pada kuartal I-2024, kontribusi sempat menyentuh 19,28%, yang menjadi salah satu level tertinggi selama periode pengamatan.
 
Selanjutnya pada tahun 2025, kontribusi sektor manufaktur tetap terjaga pada level tinggi. Setelah berada di 18,67% pada kuartal II-2025, kontribusi meningkat menjadi 19,15% pada kuartal III-2025 dan kembali naik ke 19,20% pada kuartal IV-2025.
 
Secara keseluruhan, jika dibandingkan antara kuartal II-2022 (17,92%) dan kuartal IV-2025 (19,20%), maka kontribusi PDB industri manufaktur meningkat sekitar 1,28 poin persentase.

Hal ini menegaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, sektor manufaktur semakin memperkuat posisinya sebagai kontributor terbesar dan motor pertumbuhan ekonomi nasional.
 
Sementara itu, Berdasarkan data Sakernas 2015–Agustus 2025, tenaga kerja pada industri pengolahan nonmigas menunjukkan tren meningkat secara konsisten.

Jumlah tenaga kerja naik dari 15,49 juta orang pada 2015 menjadi 18,90 juta orang pada 2019. Meski sempat terdampak pandemi pada 2021 hingga turun ke 17,44 juta orang, sektor ini kembali pulih pada tahun-tahun berikutnya.
 
Pada periode pemulihan, penyerapan tenaga kerja terus bertambah dari 18,65 juta orang pada 2022 menjadi 20,26 juta orang pada Agustus 2025, sekaligus menjadi level tertinggi selama periode pengamatan.

Secara keseluruhan, hal ini menunjukkan bahwa industri pengolahan nonmigas tetap berperan penting sebagai penyedia lapangan kerja dan memiliki ketahanan yang kuat dalam mendukung perekonomian nasional.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.