Brent Melonjak ke USD107, Pasokan Global Tertekan Krisis Hormuz

AKURAT.CO Harga minyak dunia kembali melanjutkan tren kenaikan pada perdagangan awal pekan, didorong oleh ketegangan geopolitik yang belum mereda di kawasan Timur Tengah serta gangguan distribusi melalui Selat Hormuz yang membuat pasokan global tetap ketat.
Dikutip dari Reuters, Senin (27/4/2026) harga minyak mentah Brent tercatat naik sebesar 2,05% atau USD2,16 menjadi USD107,49 per barel, sekaligus menjadi level tertinggi sejak awal April.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat 1,88% atau USD1,77 ke posisi USD96,17 per barel.
Baca Juga: IHSG dan Obligasi Kompak Memerah Imbas Lonjakan Harga Minyak Global
Kenaikan ini melanjutkan tren penguatan signifikan pada pekan sebelumnya, di mana Brent dan WTI masing-masing melonjak sekitar 17% dan 13%. Lonjakan tersebut menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak awal konflik yang memicu ketidakstabilan pasokan energi global.
Sentimen pasar turut dipengaruhi oleh terhentinya sementara perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Rencana kunjungan utusan AS ke Islamabad dibatalkan, meskipun Menteri Luar Negeri Iran tetap melanjutkan agenda diplomatiknya ke Pakistan.
Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, menilai situasi ini membuat ketidakpastian semakin tinggi karena membuka kemungkinan Iran mengambil langkah strategis terkait produksi minyaknya.
“Langkah ini mengembalikan kendali sepenuhnya ke tangan Iran, dan waktu terus berjalan dengan cepat," kata Tony.
Di sisi lain, arus distribusi minyak melalui Selat Hormuz masih terbatas. Data pelacakan pengiriman menunjukkan hanya sedikit kapal tanker yang melintasi jalur tersebut, menyusul kebijakan pembatasan oleh Iran serta tekanan dari Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik, Pemda Diminta Bebaskan Pajak Kendaraan Listrik
Kondisi ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia.
Dalam perkembangan lain, lembaga keuangan Goldman Sachs turut merevisi proyeksi harga minyak untuk kuartal keempat tahun ini. Bank investasi tersebut menaikkan estimasi harga Brent menjadi USD90 per barel dan WTI menjadi USD83 per barel, dengan mempertimbangkan potensi penurunan produksi dari kawasan Timur Tengah.
“Risiko ekonomi lebih besar daripada yang disarankan oleh skenario dasar minyak mentah kami saja karena risiko kenaikan bersih terhadap harga minyak, harga produk olahan yang luar biasa tinggi, risiko kekurangan produk, dan skala guncangan yang belum pernah terjadi sebelumnya," ujar analisi GS, Daan Struyven.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







