RKAB Terbatas, Operasi Tambang Nikel WBN Terancam Terhenti

AKURAT.CO Eramet SA memprediksi operasi tambang nikel PT Wade Bay Nikel (WBN) di Halmahera Tengah bakal berhenti sementara mulai pertengahan Mei 2026.
Berdasarkan laporan kinerja kuartal I-2026 Eramet, diketahui bahwa PT WBN saat ini tengah mengajukan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk meningkatkan volume produksi tahun 2026.
Sebelumnya, perusahaan hanya memperoleh persetujuan RKAB awal sebesar 12 juta wet metric ton (Mwmt) bijih nikel, yang diperkirakan akan habis pada pertengahan Mei 2026.
Baca Juga: Baru Dilantik, Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Dugaan Korupsi Nikel
“Menyusul persetujuan RKAB awal yang terbatas pada 12 Mwmt bijih nikel untuk tahun 2026 yang produksinya akan dicapai pada pertengahan Mei,” tulis laporan kinerja kuartal I-2026 dikutip, Rabu (29/4/2026).
Dengan kondisi tersebut, PT WBN bersiap menempatkan operasi tambang pada status perawatan dan pemeliharaan (care and maintenance) mulai Mei, sambil menunggu persetujuan revisi izin produksi.
Adapun, volume RKAB 2026 WBN tercatat turun lebih dari 70% dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, RKAB awal sebesar 32 Mwmt bahkan sempat direvisi naik menjadi 42 Mwmt pada pertengahan tahun.
Meski demikian, kinerja penjualan pada kuartal I-2026 menunjukkan tren positif. Penjualan bijih nikel eksternal mencapai 8,3 Mwmt atau tumbuh 54% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penjualan saprolit tercatat sebesar 4,8 juta ton atau naik 27% secara tahunan, sementara penjualan limonit melonjak signifikan menjadi 3,6 juta ton, atau meningkat lebih dari dua kali lipat.
“Hal ini didorong oleh meningkatnya permintaan dari pabrik HPAL (High-Pressure Acid Leach) di IWIP. Konsumsi internal untuk pabrik NPI mencapai 1,0 juta ton selama kuartal tersebut,” tulis laporan tersebut.
Eramet juga mencatat bahwa PT WBN masih memperoleh premi harga yang signifikan untuk saprolit berkadar tinggi, yakni lebih dari 100% dibandingkan indeks harga nikel HPM, di tengah terbatasnya pasokan domestik.
Baca Juga: Perombakan Formula HPM Berdmpak Positif, Pengusaha: Dongkrak Harga Acuan Nikel hingga 140 Persen
Namun, di sisi lain, biaya produksi mengalami peningkatan cukup tajam secara tahunan. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya rasio pengupasan lapisan tanah (stripping ratio) serta kenaikan harga energi, yang mulai terasa sejak Maret 2026.
Untuk produksi hilir, output NPI tercatat sebesar 9,0 kt-Ni atau relatif stabil dengan penurunan tipis 1% dibandingkan kuartal I-2025.
“Sebagai bagian dari kontrak pembelian (aktivitas perdagangan), penjualan NPI mencapai 3,8 kt-Ni (-2% dibandingkan Q1 2025),” tulis laporan tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









