Akurat Logo

Laba Tumbuh Hampir 73 Persen di Kuartal I-2026 Tapi Kas Susut, Awal Tahun yang Kontras bagi Unilever Indonesia

Yosi Winosa | 30 April 2026, 09:59 WIB
Laba Tumbuh Hampir 73 Persen di Kuartal I-2026 Tapi Kas Susut, Awal Tahun yang Kontras bagi Unilever Indonesia
Unilever Indonesia

AKURAT.CO PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) membuka 2026 dengan kenaikan laba bersih yang signifikan, meskipun pertumbuhan pendapatan relatif moderat.

Mengutip financial statement perseroan di keterbukaan informasi BEI, Kamis (30/4/2026), penjualan kuartal I tercatat sekitar Rp8,44 triliun, naik tipis 2,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp8,21 triliun.

Namun dorongan efisiensi dan pengendalian biaya berhasil mengerek laba bersih menjadi Rp2,14 triliun, lonjakan tajam sebesar 72,58% dari Rp1,24 triliun pada kuartal I 2025.

Baca Juga: UNVR Bukukan Laba Bersih Rp1,2 Triliun di Kuartal I-2025, Melonjak 244,7 Persen Secara Kuartalan

Margin menjadi cerita utama. Laba bruto meningkat menjadi Rp4,07 triliun, sementara beban penjualan justru turun dari Rp1,87 triliun menjadi Rp1,64 triliun.

Kombinasi ini mengindikasikan strategi pengetatan biaya yang lebih agresif, kemungkinan melalui optimalisasi distribusi dan efisiensi pemasaran di tengah daya beli yang belum sepenuhnya pulih.

Menurut Presiden Direktur, Benjie Yap, hasil kuartal pertama 2026 menandai langkah penting untuk terus maju, mencerminkan momentum yang telah dibangun sepanjang tahun 2025.

Di tengah kondisi eksternal yang masih menantang, langkah-langkah disiplin yang telah kami jalankan selama setahun terakhir mulai menunjukkan kemajuan pada kualitas pertumbuhan, kekuatan eksekusi di pasar, serta ketangguhan kinerja keuangan Perseroan.

"Hasil kinerja kuartal pertama ini semakin memperkuat keyakinan kami bahwa bisnis kami berada dalam jalur kemajuan yang positif, didukung oleh fundamental yang terus membaik serta momentum yang semakin menguat," ujar Benjie.

Kas Tertekan

Namun di balik perbaikan laba, laporan arus kas mengungkap dinamika yang kurang nyaman. Arus kas dari operasional anjlok menjadi sekitar Rp440 miliar, jauh di bawah Rp1,52 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Penurunan ini terutama dipicu oleh peningkatan pembayaran pajak dan perubahan modal kerja, termasuk tekanan pada pembayaran kepada pemasok dan beban operasional lainnya.

Neraca perusahaan relatif stabil, dengan total aset berada di kisaran Rp20,013 triliun, stagnan dari sebelumnya Rp20,017 triliun triliun.

Liabilitas susut ke Rp13,45 triliun dari Rp15,54 triliun. Di sisi ekuitas, saldo meningkat menjadi Rp6,56 triliun dari Rp4,47 triliun, mencerminkan akumulasi laba ditahan yang lebih kuat.

Kondisi kontras laba yang melonjak dan arus kas yang melemah bisa menjadi titik perhatian utama investor.

Dalam gaya klasik industri barang konsumsi cepat saji atau FMCG, profitabilitas dapat ditopang oleh efisiensi jangka pendek, namun keberlanjutan kinerja sangat bergantung pada kualitas kas dan kekuatan permintaan domestik.

Dengan konsumsi rumah tangga Indonesia yang masih bergerak tak merata, UNVR terlihat menempuh jalur defensif: menjaga margin sambil mengelola likuiditas.

Mengingat, sejak akhir 2023 emiten satu ini sempat terpukul sentimen boikot karena dianggap pro Israel, mengakibatkan penjualan maupun laba bersih di kuartal I-2025 lalu secara tahunan susut masing-masing 5,9% dan 14,6%.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.