DEN: Kehati-hatian Jadi Kunci Pemulihan Sistem Kelistrikan Sumatra

AKURAT.CO Proses pemulihan sistem kelistrikan Sumatra pascagangguan transmisi interkoneksi dinilai memang perlu dilakukan secara bertahap dan penuh kehati-hatian guna menjaga stabilitas sistem tenaga listrik hingga pasokan kembali normal.
Dengan cakupan interkoneksi yang membentang ribuan kilometer serta melibatkan banyak pembangkit dan jaringan transmisi, pemulihan yang berlangsung dalam waktu relatif cepat dinilai menunjukkan penanganan yang cukup baik.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), M Kholid Syeirazi menilai pemulihan sistem interkoneksi berskala besar tidak dapat dilakukan secara instan karena seluruh komponen sistem harus kembali tersinkronisasi secara stabil.
Baca Juga: Kementerian ESDM Minta PLN Evaluasi Menyeluruh Sistem Buntut Blackout Sumatra
“Pemulihan sistem kelistrikan skala besar memang harus dilakukan penuh kehati-hatian. Yang dikejar bukan sekadar cepat menyala, tetapi memastikan sistem kembali normal secara aman dan andal,” ujar Kholid.
Ia menjelaskan, dalam sistem interkoneksi, kestabilan frekuensi menjadi indikator utama keseimbangan antara daya pembangkitan dan beban pelanggan.
Ketika terjadi gangguan besar dan sejumlah pembangkit lepas dari sistem, frekuensi dapat turun drastis dan memicu efek domino pada jaringan kelistrikan.
“Kalau recovery dilakukan terlalu cepat tanpa sinkronisasi yang tepat, risikonya frekuensi kembali turun dan memicu pembangkit lepas lagi dari sistem. Itu yang harus dihindari,” jelasnya.
Karena itu, proses pemulihan dilakukan secara bertahap dan terukur agar sinkronisasi antar pembangkit tetap terjaga, baik dari sisi frekuensi, tegangan, maupun sudut fasa sistem.
Menurutnya, ketidakseimbangan antara pasokan dan beban akibat recovery yang terlalu agresif dapat memicu blackout susulan maupun gangguan pada peralatan pembangkit dan transmisi.
“Dalam sistem interkoneksi sebesar Sumatra, stabilitas sistem menjadi prioritas utama. Recovery bertahap justru diperlukan agar sistem benar-benar pulih secara aman,” katanya.
Kholid menambahkan, pembangkit thermal seperti PLTU membutuhkan waktu lebih panjang dalam proses pemulihan karena harus melewati tahapan teknis mulai dari pemanasan boiler, pembentukan tekanan uap, sinkronisasi frekuensi, hingga stabilisasi beban sebelum dapat beroperasi penuh.
“PLTU memang tidak bisa serentak masuk kembali ke sistem. Ada tahapan teknis yang harus dijalankan agar unit pembangkit tetap aman dan tidak mengalami gangguan saat sinkronisasi,” ujarnya.
Ia menilai proses pemulihan yang dilakukan hingga sistem kelistrikan Sumatra kembali normal menunjukkan penanganan dilakukan secara terukur pada sistem interkoneksi berskala besar.
“Dalam penanganan gangguan sistem interkoneksi, kehati-hatian dan tahapan recovery yang terukur menjadi faktor utama agar pemulihan berjalan stabil dan tidak memicu blackout susulan. Saya melihat proses pemulihan yang dilakukan sudah cukup baik sehingga sistem bisa kembali normal dengan aman,” tutur Kholid.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









