Pererat Hubungan Dagang dengan Prancis, Kadin dan MEDEF Bentuk Dewan Bisnis Tingkat Tinggi

AKURAT.CO Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama Mouvement des Entreprises de France (MEDEF) resmi meluncurkan France-Indonesia High-Level Business Council (FI-HLBC) dalam Forum CEO Indonesia-Prancis 2026 di Paris, Prancis.
Peluncuran dilakukan bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden RI Prabowo Subianto ke Prancis dan digelar di Hotel de Marigny, Palais de l'Élysée Estate.
Pembentukan FI-HLBC menjadi langkah baru dalam penguatan hubungan ekonomi Indonesia dan Prancis di tengah tren peningkatan perdagangan kedua negara pada awal 2026.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie mengatakan, nilai perdagangan bilateral RI-Prancis pada kuartal I 2026 telah mencapai USD1 miliar atau sekitar Rp16,3 triliun dengan asumsi kurs Rp16.300 per USD.
“Tadi ditandatangani kerja sama dengan MEDEF. Kami sepakat membentuk High-Level Business Council antara Prancis dan Indonesia. Dalam kuartal pertama tahun ini saja, nilai perdagangan kedua negara meningkat hingga mencapai 1 miliar dolar AS,” kata Anindya dalam keterangannya, Jumat (29/5/2026).
Presiden Prabowo Subianto menyambut baik pembentukan FI-HLBC sebagai bagian dari penguatan kemitraan strategis komprehensif atau Comprehensive Strategic Partnership antara Indonesia dan Prancis.
Menurut Prabowo, keterlibatan aktif perusahaan-perusahaan Prancis dinilai penting bagi pengembangan ekonomi nasional, terutama di sektor strategis.
“Ini saya kira sangat penting dan kita akan sangat gembira dengan partisipasi dan kehadiran perusahaan-perusahaan Prancis terus di ekonomi Indonesia, dan Prancis sebagai pemimpin Eropa akan terus memainkan peranan yang sangat penting di kawasan Asia Tenggara,” ujar Prabowo.
Dalam forum tersebut, Presiden Prancis Emmanuel Macron turut memberikan dukungan terhadap peningkatan kerja sama investasi dan perdagangan kedua negara.
Kehadiran langsung Prabowo dan Macron dalam peluncuran FI-HLBC dinilai menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah Indonesia dan Prancis tengah mempercepat diplomasi ekonomi berbasis investasi jangka panjang.
Anindya mengatakan kerja sama yang dibangun melalui FI-HLBC tidak hanya berorientasi pada perdagangan, tetapi juga diarahkan untuk mendorong penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi, hingga pengembangan kualitas sumber daya manusia.
“Tadi juga dibicarakan mengenai vocational studies, peningkatan kemampuan sumber daya manusia, hingga turisme. Pariwisata Indonesia maupun Prancis memiliki daya tarik yang sangat besar,” ujarnya.
Selain itu, sejumlah sektor strategis turut menjadi fokus pembahasan kedua negara, mulai dari energi dan mineral, manufaktur, pendidikan, kesehatan, hingga pengembangan SDM.
Menurut Anindya, sektor-sektor tersebut dipilih karena dinilai memiliki potensi investasi jangka panjang dan dapat memberikan dampak ekonomi langsung.
“Empat subsektor itu kami bahas bersama-sama untuk memastikan masing-masing pelaku usaha dapat membuat progres yang konkret,” katanya.
Pembentukan FI-HLBC juga muncul di tengah upaya Indonesia memperluas sumber investasi asing dari kawasan Eropa. Selama beberapa tahun terakhir, investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) Indonesia masih didominasi negara-negara Asia seperti Singapura, China, Hong Kong, dan Jepang.
Berdasarkan data Kementerian Investasi/BKPM, realisasi investasi Prancis ke Indonesia dalam beberapa tahun terakhir cenderung bergerak di sektor energi, manufaktur, transportasi, dan industri berbasis teknologi.
Sejumlah perusahaan besar asal Prancis seperti TotalEnergies, Airbus, Alstom, hingga Danone telah memiliki aktivitas bisnis di Indonesia.
Dari sisi perdagangan, hubungan ekonomi RI-Prancis juga menunjukkan tren peningkatan pascapandemi COVID-19.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya menunjukkan nilai perdagangan bilateral kedua negara terus tumbuh seiring pemulihan permintaan global dan peningkatan ekspor produk manufaktur serta komoditas Indonesia ke pasar Eropa.
Peluncuran FI-HLBC dinilai penting karena terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi global, perlambatan perdagangan dunia, serta meningkatnya persaingan investasi antarnegara di kawasan Asia Tenggara.
Pemerintah Indonesia saat ini juga tengah mendorong hilirisasi industri, pengembangan energi transisi, dan peningkatan kualitas tenaga kerja untuk menarik investasi bernilai tambah tinggi.
Kadin Indonesia dan MEDEF disebut akan menindaklanjuti pembentukan FI-HLBC melalui pembahasan proyek-proyek prioritas serta penguatan kolaborasi bisnis lintas sektor.
Pemerintah Indonesia juga menargetkan hubungan ekonomi dengan Prancis dapat berkembang tidak hanya dalam perdagangan barang, tetapi juga transfer teknologi, pendidikan vokasi, dan pengembangan industri berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









