WGSH Ekspansi Bisnis, Fokus Efisiensi Rantai Pasok Ikan

AKURAT.CO PT Wira Global Solusi Tbk (WGSH) resmi memperluas portofolio bisnisnya ke sektor pangan melalui investasi pada Tumbara, perusahaan distribusi seafood yang fokus pada penyaluran ikan dan udang ke jaringan ritel modern.
Langkah ini menandai transformasi lanjutan WGSH dari perusahaan teknologi menjadi holding investasi berbasis teknologi yang mulai masuk ke sektor riil dengan potensi pasar yang besar.
Komisaris Utama PT Wira Global Solusi Tbk, Ikin Wirawan mengatakan, Perseroan saat ini memiliki kepemilikan sebesar 10% di Tumbara dan melihat sektor pangan sebagai salah satu area strategis yang mampu memberikan dampak ekonomi sekaligus sosial.
Baca Juga: Diversifikasi Bisnis Jadi Kunci Pertumbuhan WGSH di Tengah Dinamika Ekonomi
"Tumbara bukan hanya peluang bisnis, tetapi juga bagian dari upaya membangun sistem distribusi pangan yang lebih modern, transparan, dan efisien," kata Ikin dalam konferensi pers WGSH Media Expose di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Salah satu pembeda utama Tumbara adalah penerapan teknologi blockchain traceability pada produk pangan kemasan. Teknologi tersebut memungkinkan konsumen menelusuri asal-usul produk mulai dari sumber produksi hingga sampai ke tangan pembeli.
WGSH menilai transparansi rantai pasok akan menjadi faktor penting dalam industri pangan di masa depan, terutama di tengah meningkatnya perhatian terhadap keamanan pangan dan kualitas produk.
Masuknya WGSH ke bisnis seafood hadir di tengah besarnya kebutuhan protein masyarakat Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan konsumsi ikan nasional terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir seiring program peningkatan gizi masyarakat. Sementara sektor perikanan menjadi salah satu penyumbang penting ketahanan pangan nasional.
Distribusi ratusan ton ikan dan udang setiap tahun melalui Tumbara berpotensi menyediakan jutaan porsi protein bagi masyarakat sekaligus membantu meningkatkan efisiensi rantai pasok perikanan.
WGSH menilai tantangan terbesar sektor pangan bukan hanya produksi, melainkan distribusi yang masih terfragmentasi dan menyebabkan biaya logistik tinggi.
Karena itu, perusahaan berupaya mengintegrasikan teknologi digital ke dalam rantai pasok pangan agar proses distribusi menjadi lebih efisien dan mudah dipantau.
"Kami percaya masa depan industri pangan akan sangat dipengaruhi teknologi. Transparansi, efisiensi, keamanan produk, dan kemampuan pelacakan akan menjadi faktor utama daya saing," ujar Ikin.
Langkah masuk ke sektor pangan merupakan bagian dari strategi diversifikasi WGSH yang selama ini dikenal sebagai perusahaan teknologi dan venture builder.
WGSH berdiri sejak 2015 dan berawal dari bisnis layanan teknologi informasi melalui Walden Global Services. Perseroan kemudian bertransformasi menjadi perusahaan investasi dan venture builder yang mengembangkan berbagai startup dan bisnis baru.
Saat ini WGSH tercatat memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp239 miliar hingga Rp246 miliar dengan pendapatan tahunan lebih dari Rp50 miliar pada 2025. Pendapatan Perseroan tumbuh 42,15% dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain Tumbara, WGSH juga mengembangkan sejumlah proyek lain seperti Landlogic di sektor properti dan Blue Phoenix yang bergerak di bidang ekonomi sirkular berbasis daur ulang plastik.
Untuk proyek properti, WGSH telah mengakuisisi PT Lereng Lembah Madu dan menyiapkan pengembangan 178 kavling perumahan di Bandung sebagai salah satu aset strategis perusahaan.
Selain sektor pangan, WGSH juga tengah memperbesar bisnis ekonomi sirkular melalui proyek Blue Phoenix yang dijalankan melalui PT Qorser Teknologi.
Dalam proyek tersebut, perusahaan mengolah limbah botol plastik PET menjadi bahan baku daur ulang untuk industri tekstil dan kemasan makanan-minuman.
Menurutnya, saat ini perusahaan memiliki kapasitas pengolahan mencapai sekitar 1.200 ton per bulan atau setara dengan sekitar 85 juta botol plastik bekas yang ditarik kembali dari lingkungan setiap bulan.
Produk hasil daur ulang kemudian diproses menjadi flakes, pellet, hingga preform yang dapat digunakan kembali oleh industri minuman kemasan maupun manufaktur plastik.
WGSH menilai bisnis daur ulang memiliki prospek yang besar karena meningkatnya permintaan global terhadap material ramah lingkungan dan kebijakan pengurangan emisi karbon.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026










