Akurat
Pemprov Sumsel

Sempat Ditolak Konser Di Indonesia Gara-Gara LGBT, Ini Sejarah Band Coldplay Yang Jarang Diketahui

Deni Muhtarudin | 14 November 2023, 17:23 WIB
Sempat Ditolak Konser Di Indonesia Gara-Gara LGBT, Ini Sejarah Band Coldplay Yang Jarang Diketahui

AKURAT.CO Konser Coldplay bertajuk "Music of the Spheres World" yang akan digelar di Jakarta, besok, Rabu (15/11/2023) merupakan kali pertama Coldplay menggelar konser di Indonesia. 

Konser yang akan dilangsungkan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada pukul 21.00 WIB itu menjadi angin segar bagi para penggemar Coldplay di Indonesia. 

Pasalnya, konser Coldplay di Indonesia sebelumnya sempat mendapat penolakan dari sejumlah organisasi masyarakat lantaran Coldplay diketahui mendukung LGBT.

Baca Juga: Dateng Ke Konser Coldplay? Ini 10 Rekomendasi Outfit Yang Bisa Kamu Gunakan

Lalu bagaimana sejarah berdirinya Coldplay? Berikut ulasannya.

Sejarah Coldplay

Bermula pada 1996 ketika vokalis utama, Chris Martin dan gitaris, Jonny Buckland yang kala itu masih menjadi mahasiswa di University College London, membentuk sebuah band rock yang diberi nama “Pectoralz.”

Kemudian pada 1997, Pectoralz berganti nama menjadi “Starfish” setelah sang bassist, Guy Berryman bergabung. Namun band ini belum meraih popularitasnya karena tidak mengeluarkan satu pun lagu. 

Menyusul Berryman, Will Champion pun bergabung dengan band itu dengan posisi sebagai drummer dan multi-instrumen. Pada akhir 1998, Starfish pun kembali berganti nama menjadi Coldplay. 

Nama “Coldplay” terinspirasi dari buku puisi dengan judul Child’s Reflection: Coldplay. Sejak saat itu hingga saat ini, nama Coldplay masih terus digunakan oleh Chris Martin dan teman-temannya.

Nama Coldplay pun semakin dikenal luas semenjak larisnya album Parachutes yang dirilis pada 2000 silam. Album ini mendapat atensi positif dari masyarakat. 

Lewat album tersebut, lagu-lagu seperti Yellow dan Trouble berhasil memerkenalkan ciri khas Coldplay dengan melodi dan lirik yang menghanyutkan. Namun meski album pertama ini dikatakan sukses, ternyata keberhasilan sejati Coldplay datang melalui album kedua mereka.

Album yang bertajuk A Rush of Blood to the Head itu dirilis pada 2002. Para kritikus musik dan penggemar Coldplay menganggap album ini sebagai karya terbaik Coldplay. 

Lagu-lagu seperti The Scientist, Clocks, dan In My Place berhasil menempatkan Coldplay di puncak tangga lagu hingga berhasil memenangkan penghargaan bergengsi seperti Grammy Awards.

Sejak itu, Coldplay terus mengukir kiprah gemilau bahkan di kancah musik internasional. Hingga kini Coldplay tetap menjadi kekuatan dominan di dunia musik. Hal ini dibuktikan dengan jutaan album yang telah berhasil mereka jual dan berbagai penghargaan yang pernah diraihnya.

Baca Juga: 7 Inspirasi Makeup Look Playful Untuk Nonton Konser Coldplay Di Jakarta

Coldplay dukung LGBT

Sebelumnya, rencana Coldplay menggelar konser di Indonesia sempat diwarnai berbagai penolakan terutama dari massa Gerakan Nasional Anti LGBT (Geranati LGBT).

Geranati LGBT menilai bahwa Coldplay telah mendukung bahkan mengampanyekan LGBT. Melalui orasinya, massa Geranati LGBT bahkan mengancam akan membakar panggung Coldplay jika konser tetap dilaksanakan. 

Selain karena LGBT, massa juga berasalan konser Coldplay digelar di tengah genosida Israel yang terjadi di Palestina. Menurut massa aksi, konser itu tidak pantas dilaksanakan karena dinilai tidak berempati dengan korban di Palestina.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.