Akurat Logo

Jaga Regenerasi, MilkLife Archery Challenge 2026 Jadi Wadah Kompetisi Atlet Panahan Usia Dini

Dian Eko Prasetio | 3 Mei 2026, 04:34 WIB
Jaga Regenerasi, MilkLife Archery Challenge 2026 Jadi Wadah Kompetisi Atlet Panahan Usia Dini
Peraih medali emas MilkLife Archery Challenge Seri 1 2026 kategori Nasional U-10 Putri, Latisya Innara Surya Putri, saat melakoni final di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (2/5/2026). MILKLIFE ARCHERY CHALLENGE

AKURAT.CO, Masa depan olahraga panahan Indonesia terus dipupuk melalui kompetisi yang konsisten sejak level akar rumput. Seperti gelaran MilkLife Archery Challenge 2026 Seri 1 yang menjadi wadah kompetisi bagi atlet-atlet panahan usia dini untuk mengasah mental dan kemampuan bertanding mereka.

Ratusan pemanah muda berbakat ikut ambil bagian dalam kejuaraaan yang berlangsung di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, sejak Kamis (30/4) lalu, dan berakhir pada Sabtu (2/5) dengan atmosfer persaingan yang sangat kental.

Tercatat sebanyak 562 peserta ambil bagian dalam ajang ini. Mereka datang mewakili 120 Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) serta 17 Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs) dari berbagai wilayah di Jawa Tengah.

Turnamen ini terbagi dalam lima kategori utama, di antaranya meliputi kategori Nasional U-10, Nasional U-13, Nasional U-15, serta kategori PVC U-10 dan PVC U-13. Para peserta tidak hanya bertarung secara individu untuk mengejar poin tertinggi, tetapi juga berkompetisi dalam format beregu.

Hal ini dilakukan guna menumbuhkan semangat kerja sama tim serta rasa bangga dalam membawa nama baik sekolah masing-masing ke podium tertinggi.

Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, mengungkapkan bahwa turnamen ini adalah manifestasi dari komitmen berkelanjutan dalam mendukung pembinaan atlet muda. Di mana fokus utama diberikan pada kelompok usia U-10 hingga U-15 sebagai fondasi atlet masa depan.

Menurut Yoppy, ajang kompetisi seperti ini memiliki peran krusial dalam menjaga kesinambungan proses pembinaan. Tanpa adanya jam terbang yang cukup, potensi besar yang dimiliki para atlet muda tidak akan bisa berkembang secara maksimal.

"Kami ingin memastikan para atlet mendapatkan kesempatan bertanding secara konsisten. Dengan begitu, aspek teknik, mental bertanding, dan rasa percaya diri mereka dapat tumbuh secara optimal seiring berjalannya waktu," kata Yoppy di sela-sela penutupan acara.

Yoppy juga memandang bahwa MilkLife Archery Challenge bukan sekadar arena untuk mencari pemenang. Baginya, turnamen ini adalah ruang pembelajaran nyata di mana para atlet muda belajar mengelola tekanan dan kegagalan di lapangan.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Panitia Pelaksana, Vera Eka Wardani, menjelaskan adanya penyesuaian regulasi pada seri kali ini. Panitia kini mengacu pada peraturan PB Perpani dengan menggunakan sistem kategori umur under agar selaras dengan standar nasional.

Penyesuaian ini berdampak positif terhadap meluasnya cakupan usia peserta, yang pada akhirnya memperkuat ekosistem olahraga panahan di level grassroot.

Vera meyakini bahwa semakin banyak anak yang mencintai panahan, semakin besar pula peluang Indonesia untuk bisa melahirkan talenta berkualitas.

"Harapannya, melalui turnamen yang kompetitif sejak dini ini, kita bisa menciptakan regenerasi atlet panahan yang berkualitas. Mereka inilah yang nantinya akan berkontribusi bagi prestasi Indonesia di masa mendatang," tutup Vera.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.