Akurat Logo

Mengenal Humble Bragging, Kesombongan Dibalut Kerendahan Hati

| 21 September 2023, 08:00 WIB
Mengenal Humble Bragging, Kesombongan Dibalut Kerendahan Hati

AKURAT.CO Humble Bragging merupakan suatu istilah dalam dunia psikologi untuk orang-orang yang menampakkan kerendahan hati, padahal disaat yang sama orang tersebut tengah menyombongkan dirinya. Berikut ini ulasan lebih lanjut terkait fenomena humble bragging yang banyak terjadi di kalangan masyarakat.

Pernahkah kalian memiliki kawan yang senang merendahkan hati namun di waktu yang sama dia juga menyombongkan dirinya? Ya, fenomena itu dinamakan humble bragging, atau kesombongan yang dibalut dengan kerendahan hati.

Baca Juga: Kontroversi Model Hijab Cepol, Apakah Menyerupai Punuk Unta Yang Hukumnya Haram?

Apa itu Fenomena Humble Bragging?

Fenomena humble bragging semakin marak terjadi seiring dengan perkembangan zaman yang sebagian besar aktivitasnya berada di media sosial, membuat orang-orang ingin mendapat pujian dan pengakuan dari orang lain dengan cara memamerkan prestasi dan pencapaiannya dengan cara humble bragging ini.

Biasanya orang-orang yang gemar menggunakan humble bragging sebagai ajang pamer ini akan terlebih dahulu merendahkan dirinya untuk mendapatkan simpati, lalu kemudian memamerkan apa yang sudah dicapainya lewat keterbatasan-keterbatasan tersebut untuk mendapatkan pujian dari orang-orang.

Salah satu ungkapan-ungkapan dari humble bragging diantaranya adalah “padahal aku jarang belajar dan bukan orang yang pintar, tapi kok bisa ya di terima di universitas ternama”, atau “padahal aku tidak memiliki pengalaman mumpuni dalam bidang ini, tapi aku bisa menyelesaikan dan menghasilkan karya yang bagus”.

Lalu sebenarnya apa yang orang-orang ini cari dari penggunaan humble bragging kepada lawan bicaranya?

Dikutip dari website resmi Halodoc, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Sezer, Gino, dan Norton pada 2018 mengungkapkan beberapa motif dari penggunaan istilah humble bragging kepada orang-orang, diantaranya:

  • Mencari simpati dari lawan bicara
  • Keinginan untuk dihormati
  • Ingin mengensankan orang lain
  • Sebagai wujud membranding diri
  • Keinginan untuk dipandang memiliki citra yang baik dihadapan orang-orang.

Lewat hasil penelitian tersebut Sezer, Gino dan Norton juga mengungkapkan bahwa orang-orang lebih menyukai atau memaklumi orang-orang yang pamer dan sombong secara terang-terangan ketimbang harus membalutnya dengan sikap rendah diri namun dalam hatinya hendak menyombongkan pencapaiannya.

Cara Menghindari Fenomena Humble Bragging

Lalu bagaimana kita harus bersikap agar bisa terhindar dari fenomena humble bragging? Berikut ini ada sedikit tips yang bisa dilakukan agar diri kita terhindar dari fenomena humble bragging

1. Jadi orang yang apa adanya

Mungkin terkadang kita akan merasa tidak enak apabila menyampaikan pencapaian yang kita gapai, namun orang lain akan lebih menghargainya apabila disampaikan dengan apa adanya tanpa dibalut oleh sesuatu.

Orang-orang akan lebih menghargai kemurnian hati kita entah itu yang baik atau buruk, ketimbang topeng-topeng kebaikan yang kita gunakan untuk membalut suatu keburukan

2. Tumbuhkan sikap empati dalam diri

Sikap empati merupakan salah satu modal utama yang harus dimiliki setiap orang dalam kehidupan sosial yang berguna agar kita bisa belajar merasakan perasaan orang lain apabila kita mengungkapkan sesuatu kepada orang tersebut.

Berkat rasa empati, kita bisa mempredisi efek atau sikap sepeti apa yang dikeluarkan lawan bicara kita apabila kita mengungkapkan suatu hal yang berpotensi menyinggung perasaan lawan bicara kita.

3. Apresiasi bukanlah pamer

Terkadang menyampaikan pencapaian yang dicapai oleh diri sendiri adalah suatu bentuk apresiasi diri dan bisa memotivasi orang lain agar bisa melakukan hal yang lebih baik dari yang kita lakukan, namun terkadang hal ini sering kali berubah menjadi bumerang yang malah menyinggung perasaan lawan bicara kita karena belum mencapai apa-apa.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.