The Echoes of Batavia, Gema Sejarah yang Hidup di Panggung Batavia PIK

AKURAT.CO Sejarah bukan sekadar catatan di buku pelajaran, melainkan kisah yang bisa dihidupkan kembali di atas panggung.
Itulah semangat yang terasa dalam The Echoes of Batavia, episode ketiga dari rangkaian pertunjukan Batavia Tales yang kembali digelar di Alun-alun Batavia PIK, Jakarta Utara.
Pertunjukan ini mengisahkan kehidupan masyarakat Batavia pada penghujung abad ke-19 hingga awal abad ke-20, masa ketika semangat perjuangan dan cinta tanah air tumbuh di tengah bayang kolonialisme.
Disajikan dengan tata artistik modern dan musik bernuansa tradisional, Batavia Tales menjadi jembatan antara generasi masa kini dengan sejarah panjang kota Jakarta.
Menurut Ramon Flotats, Director of Operations Amantara, Batavia Tales adalah bagian dari inisiatif Batavia PIK untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia dalam format yang lebih segar dan mudah dicerna masyarakat urban.
“Pertunjukan ini bukan hanya hiburan, tapi juga cara kami menghidupkan kembali semangat sejarah dan merayakan keberagaman budaya Jakarta,” ujarnya.
Dalam episode terbaru ini, kisah berpusat pada tokoh Ana Maria Titale, I Wayan Eka, dan enam sekawan yang mempertaruhkan nyawa untuk membebaskan Suminah—seorang pejuang yang ditangkap karena terlibat dalam pemberontakan Cilegon.
Baca Juga: Bawa Lima Tuntutan, Konfederasi ASPEK Indonesia Serukan Aksi Lawan Genosida di Palestina
Alur yang penuh intrik dan emosi ini membawa penonton menelusuri sisi gelap kota Batavia: dari gang sempit, bisikan rahasia, hingga semangat melawan ketidakadilan.
Penulis sekaligus sutradara, mhyajo, menyebut karya ini sebagai bentuk penghormatan terhadap keberanian dan persatuan yang diwariskan generasi terdahulu.
“Saya ingin Batavia tampil bukan hanya sebagai latar, tapi sebagai karakter hidup yang menyimpan kisah cinta dan perjuangan,” katanya.
Pertunjukan The Echoes of Batavia dapat disaksikan gratis setiap Sabtu dan Minggu pukul 17.17 WIB.
Dengan kemasan artistik yang memadukan tradisi dan modernitas, program ini menegaskan posisi Batavia PIK sebagai destinasi budaya yang tumbuh di tengah denyut urban Jakarta.
Sebuah pengingat, bahwa di balik kemegahan kota modern, masih bergema suara masa lalu yang layak dirayakan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









