Rasio Kewirausahaan Indonesia Masih Rendah, Menteri UMKM Dorong Skema Waralaba sebagai Solusi

AKURAT.CO Menteri Koperasi dan UKM, Maman Abdurrahman mengakui bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam membangun semangat kewirausahaan nasional.
Rasio kewirausahaan Indonesia yang stagnan di angka 3,1% menjadi sorotan utama dalam pameran waralaba terbesar tanah air, FLEI Business Show 2024.
“Kita harus bergerak cepat. Negara yang memiliki rasio kewirausahaan tinggi terbukti mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjadi negara maju. Kita harus mengejar ketertinggalan,” kata Maman di Jakarta, Sabtu (17/5/2025).
Baca Juga: Efisiensi Anggaran Jadi Pemicu Inovasi, Menteri Maman: UMKM Tetap Didukung Pemerintah
Sebagai solusi strategis, pemerintah menyoroti potensi industri waralaba sebagai jalan pintas bagi masyarakat untuk menjadi pelaku usaha, terutama mereka yang belum memiliki pengalaman bisnis.
Menurut Maman, sistem waralaba menawarkan standar operasional yang telah teruji, bimbingan berkelanjutan, dan dukungan pemasaran yang dapat mempercepat proses belajar dan meminimalkan risiko kegagalan UMKM pemula.
“Kita ingin waralaba bisa menjadi sarana pembelajaran bagi UMKM, bukan sekadar hubungan dagang. Ini soal transformasi kapasitas,” ujarnya.
Baca Juga: Menteri Maman: Efisiensi Anggaran Tak Ganggu Belanja Produk UMKM
Ia juga mengimbau agar seluruh franchisor dan franchisee mematuhi aturan yang berlaku, termasuk Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2024, guna menjaga kepercayaan publik terhadap model bisnis ini.
“Tidak boleh ada pihak yang menyalahgunakan model waralaba untuk meraup untung semata tanpa memperhatikan kualitas kemitraan,” tegasnya.
Pemerintah juga mengacu pada PP Nomor 7 Tahun 2021 tentang kemitraan usaha yang menekankan pentingnya kolaborasi antara usaha mikro dan besar dalam semangat pemberdayaan.
Dukungan terhadap sektor waralaba diyakini akan mempercepat pencapaian target rasio kewirausahaan 4% dalam jangka pendek. Bila tercapai, target ini akan menjadi pijakan penting menuju ekonomi inklusif berbasis kewirausahaan di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








